Pewarna Alami Baduy Dikenalkan ke Generasi Muda, Satukan Budaya dan Kepedulian Lingkungan

0
34
Pewarna Alami Baduy Dikenalkan ke Generasi Muda, Satukan Budaya dan Kepedulian Lingkungan.

Serang,fesbukbantennews.com (4/6/2026) – Warisan budaya pewarnaan alami khas masyarakat adat Baduy terus diperkenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi dan lingkungan. Melalui Loka Karya Teknik Pewarnaan Alami Tenun serta Pemutaran dan Bedah Film Dokumenter Ngawarna Ti Leuweung, siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum diajak mengenal lebih dekat kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.Pewarna Alami Baduy Dikenalkan ke Generasi Muda, Satukan Budaya dan Kepedulian Lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung di Kota Serang pada 15–16 Mei 2026 itu menghadirkan praktisi pewarna alami Baduy, Kang Sukma, dan dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Gita, sebagai narasumber.

Dalam sesi loka karya, peserta mempelajari langsung teknik pewarnaan alami yang selama ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat Baduy. Kang Sukma menjelaskan bahwa jauh sebelum pewarna sintetis dikenal luas, masyarakat Baduy telah memanfaatkan berbagai bahan alam untuk menghasilkan warna pada kain tenun.

“Daun tarum digunakan untuk menghasilkan warna biru, kayu nangka untuk warna kuning, kulit mahoni menghasilkan warna cokelat, akar mengkudu untuk warna merah, dan jawir kotok menghasilkan warna abu-abu,” ujar Kang Sukma.

Menurutnya, penggunaan pewarna alami bukan semata-mata bernilai ekonomi, melainkan juga menjadi upaya menjaga warisan budaya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Tujuannya bukan hanya untuk ekonomi, tetapi juga mempertahankan tradisi sekaligus menyalurkan hobi. Pewarna alami ini merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga agar tidak hilang,” katanya.

Ia menjelaskan, proses pewarnaan alami memerlukan tahapan yang cukup panjang, mulai dari pengolahan bahan melalui fermentasi, pengikatan kain sesuai motif, pencelupan berulang, hingga proses fiksasi untuk mengunci warna agar lebih tahan lama. Kain katun, lanjutnya, menjadi salah satu material yang paling baik digunakan karena mampu menyerap warna secara optimal.

Sementara itu, dalam sesi bedah film dokumenter Ngawarna Ti Leuweung, Gita menyoroti nilai-nilai yang terkandung dalam praktik pewarnaan alami masyarakat Baduy. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya merepresentasikan identitas budaya, tetapi juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

“Saya kagum karena masyarakat Baduy tetap mampu mempertahankan tradisi di tengah arus modernisasi. Film ini menunjukkan bahwa pewarnaan alami bukan sekadar menghasilkan warna pada kain, tetapi juga mengajarkan nilai moral, sosial, budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.

Gita menilai penggunaan pewarna alami menjadi salah satu bentuk praktik berkelanjutan karena meminimalkan penggunaan bahan kimia yang berpotensi mencemari lingkungan. Ia bahkan menyebut teknik pewarnaan alami khas Baduy sebagai salah satu yang terbaik di Banten karena mampu menghasilkan warna yang kuat dan tahan lama apabila dirawat dengan baik.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis mengenai proses pewarnaan alami, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kearifan lokal sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Edukasi semacam ini diharapkan mampu mendorong generasi muda untuk lebih mengenal, menghargai, dan melestarikan warisan budaya masyarakat adat Baduy sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here