Serang,fesbukbantennews.com (22/5/2026) – Di balik pesatnya pertumbuhan kawasan industri di Kota Cilegon, terdapat Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidanau yang selama ini menjadi penopang utama kebutuhan air baku bagi industri dan masyarakat di wilayah Banten bagian barat.
Kawasan DAS Cidanau tidak hanya memiliki fungsi strategis sebagai sumber air, tetapi juga menyimpan kekayaan ekologis penting melalui keberadaan Cagar Alam Rawa Danau seluas 3.542,70 hektare yang merupakan satu-satunya rawa pegunungan di Pulau Jawa.
Air dari kawasan hulu DAS Cidanau mengalir menuju Rawa Danau dan Sungai Cidanau sebelum dimanfaatkan untuk kebutuhan industri dan masyarakat di Kota Cilegon serta sebagian wilayah Serang bagian barat.
Data PT Krakatau Tirta Industri (KTI) mencatat sekitar 80 persen industri besar dan kecil di Kota Cilegon dan sekitarnya menjadi pelanggan perusahaan tersebut. Jumlah industri yang dilayani mencapai sekitar 120 perusahaan dengan total investasi diperkirakan mencapai Rp180 triliun, termasuk kerja sama industri baja Krakatau Steel dan POSCO.
Kebutuhan air baku di kawasan industri dan permukiman saat ini mencapai sekitar 1.600 liter per detik dan diproyeksikan meningkat menjadi 2.500 liter per detik seiring pertumbuhan investasi dan pengembangan industri di Cilegon.
Sejumlah industri yang berkembang di kawasan tersebut bahkan termasuk kategori industri vital nasional, mulai dari industri kimia hulu, industri baja, hingga penyedia energi listrik untuk wilayah Jawa dan Bali.
Besarnya kebutuhan air baku tersebut menjadikan DAS Cidanau sebagai salah satu kawasan strategis yang memiliki peran penting bagi keberlangsungan industri nasional.
Selain menopang kebutuhan air, kawasan DAS Cidanau juga menjadi habitat penting bagi keanekaragaman hayati. Cagar Alam Rawa Danau yang berada di kawasan tersebut memiliki sekitar 131 spesies endemik ekosistem rawa dan beberapa di antaranya masuk dalam daftar merah (red list) spesies yang membutuhkan perlindungan.
Karena itu, upaya menjaga kelestarian kawasan hulu DAS Cidanau terus diperkuat melalui berbagai program konservasi berbasis kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
Salah satu program yang terus dijalankan adalah Program Pembayaran Jasa Lingkungan Hidup (PJLH), yakni skema konservasi yang melibatkan kelompok tani hutan di wilayah hulu untuk menjaga tutupan lahan dan kelestarian daerah tangkapan air.
Melalui program tersebut, masyarakat dilibatkan dalam menjaga pohon dan kawasan resapan air agar keberlanjutan sumber air tetap terjaga untuk kebutuhan lingkungan maupun industri di wilayah hilir.
Gubernur Banten, Andra Soni, menegaskan pentingnya menjaga kawasan tangkapan air di DAS Cidanau demi keberlanjutan kebutuhan air di Kota Cilegon.
“Kita sadar bahwa Cilegon membutuhkan air baku yang besar sehingga kita harus menjaga daerah-daerah tangkapan air kita agar berkelanjutan,” ujar Andra Soni.
Menurutnya, keberlanjutan DAS Cidanau tidak hanya berkaitan dengan pelestarian lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi dan industri strategis nasional yang bergantung pada ketersediaan air baku.
Dengan peran ekologis dan ekonominya yang besar, DAS Cidanau kini menjadi salah satu kawasan penting di Banten yang memadukan fungsi konservasi alam, perlindungan keanekaragaman hayati, dan penopang utama kebutuhan air bagi kawasan industri nasional.(fun/LLJ).


