Status Gunung Anak Krakatau Kembali Naik Jadi Level III Siaga, Warga Diminta Jauhi Radius 5 KM

0
19
Kondisi Erupsi Gunung Anak Krakatau. JUMAT (9/10/2026) sore.

Serang,fesbukbantennews.com(19/10/2026) – Status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali naik dari Level II (waspada) menjadi Level III (siaga) mulai Jumat (9/10/2026) malam ini. Masyarakat di sekitar Gunungapi Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 5 km dari pusat erupsi Anak Krakatau. Demikian dari data rilis yang doterima redaksi FBn dari PVMBG.Kondisi Erupsi Gunung Anak Krakatau. JUMAT (9/10/2026) sore.

Dengan kenaikan status tersebut, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi bagi masyarakat dan wisatawan. Warga diminta menjauhi radius 5 Km dari Gunung Anak Krakatau.

Selain itu, masyarakat dan wisatawan juga dilarang memasuki wilayah radius 1 kilometer dari pulau baru yang berada di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau

Badan Geologi juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah potensi bahaya akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Ancaman tersebut antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, hingga potensi erupsi sekunder yang dapat terjadi akibat kontak panas lava dengan air laut maupun air hujan.

Meski status Gunung Anak Krakatau naik menjadi Level III atau Siaga, Badan Geologi meminta masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung tetap tenang. Masyarakat diminta tidak mempercayai isu yang menyebut aktivitas Gunung Anak Krakatau akan menyebabkan tsunami.

Masyarakat di wilayah tersebut tetap dapat melakukan aktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Lebih jauh, PVMBG juga menjelaskan, selama periode tanggal 218 September 9 Oktober 2026 gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Pengamatan visual dan CCTV memperlihatkan kepulan asap kawah bertekanan sedang berwarna putih hitam dengan tinggi kolom asap antara 5 – 50 m di atas kawah. Cuaca cerah hingga hujan, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, dan barat laut. Suhu udara sekitar 27° 32° C. Pemantau kondisi kawah melalui Satelit Sentinel periode tanggal 21 September – 9 Oktober 2026 memperlihatkan adanya emisi gas SO2 dalam porsi rendah pada kisaran 71237,5 ton per hari, dan anomali panas dalam tingkat rendah pada kisaran 15-25 N pixel. Titik api terlihat sejak 6 Oktober 2026.

Dalam Pengamatan Instrumental, selama periode tanggal 21 September – 8 Oktober 2026 terekam 5 kali gempa Erupsi, 8 kali gempa Hembusan, 11 kali gempa Low Frequency, 45 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, 17 kali gampa Tremor Menerus, 31 kali gempa Vulkanik Dangkal, 9 kali gempa Vulkanik Dalam, dan 8 kali Gempa Tektonik Jauh. Pada 9 Oktober 2026 hingga pukul 19.20 terjadi 9 kali erupsi dengan amplitudo maksimum 55 m dan durasi erupsi 32 detik dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Energi aktivitas vulkanik yang dicerminkan dari nilai perataan amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) secara umum terlihat berfluktuatif dengan energi rendah. Data tiltmeter Stasiun Tanjung periode tanggal 21 September 9 Oktopber 2026 memperlihatkan pola fluktuatif dengan kecenderungan mendatar (konstan) pada komponen Y.

Selama periode 21 September 9 Oktober 2026, kegempaan vulkanik Gunungapi Anak Krakatau, baik yang berasosiasi dengan magmatik dangkal (gempa Hembusan, Low Frequency, gempa Hybrid/Fase Banyak, dan gempa Tremor) maupun gempa yang berasosiasi dengan magmatik dalam (gempa Vulkanik Dangkal dan Vulkanik

Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh BSrE

Dalam) tidak memperlihatkan gejala peningkatan yang signifikan dengan kejadian rata rata perhari dibawah 5. Hal ini juga tercermin pada grafik RSAM dan tiltmeter yang tidak memperlihatkan adanya gelaja peningkatan.

Meskipun demikian, peningkatan gejala aktivitas dalam skala rendah ini mulai terlihat sejak awal Oktober 2026. Hal ini ditandai oleh terjadinya 14 kali erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang terjadi sejak tanggal 6-9 Oktober 2026.(LLJ).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here