Pandeglang,fesbukbantennews.com (13/6/2026) – Tidak semua perjalanan bisa disebut petualangan. Dan tidak semua petualangan menyisakan kesan hingga ke relung paling dalam jiwa. Open Trip Sanghiang Sirah—yang baru pertama kali digelar ini—bukan sekadar wisata biasa. Ia adalah eksplorasi lintas alam, waktu, dan keyakinan.
Terletak di kawasan Ujung Kulon, Sanghiang Sirah bukan destinasi instan yang bisa dicapai dengan kendaraan roda empat. Perjalanan ke sana dimulai dari laut, dilanjutkan dengan jalan kaki menyusuri bibir hutan, dan ditutup dengan masuk ke dalam goa yang selama ini dikenal sebagai tempat ziarah.
Tempat yang Diyakini Berkumpulnya 4.444 Kekasih Allah
Goa Sanghiang Sirah bukanlah goa biasa. Bagi sebagian masyarakat dan para peziarah, tempat ini diyakini sebagai lokasi berkumpulnya 4.444 wali atau kekasih Allah. Kesunyiannya, dinginnya, dan hembusan angin yang masuk melalui celah-celah batu menciptakan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Banyak yang merasakan ketenangan luar biasa saat berada di dalamnya. Ada pula yang merasakan sentuhan energi spiritual yang membuat hati bergetar.
Tak heran jika setiap tahun, peziarah dari berbagai daerah datang ke sini—bukan untuk mencari keindahan panorama, melainkan untuk merenung, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Di tempat inilah, antara dinding goa yang lembab dan sunyi yang nyaris mutlak, seseorang bisa merasa kecil sekaligus agung dalam waktu bersamaan.
Perjalanan yang Dimulai dari Malam
Open trip ini akan berangkat pada Jumat malam, 10 Juli 2026, tepat pukul 21.00 WIB dari Legon Guru Beach. Sebelum kapal melaju menuju Pulau Peucang, peserta akan mengikuti makan malam bersama (sajian khas ujung kulon Pecak Haseum #bakarrasa)—momen pertama yang sekaligus menjadi ruang perkenalan antarpetualang.
Sekitar tengah malam, kapal akan tiba di perairan Pulau Peucang. Di sanalah sensasi sesungguhnya mulai terasa. Sebelum mendarat, rombongan akan mencari umpan ke nelayan bagang. Peserta yang ingin beristirahat disediakan tempat di pulau. Namun bagi yang ingin tetap terjaga ditemani debur ombak dan gelapnya laut selatan, mereka bisa memilih untuk tetap di perahu sambil memancing ikan dasaran.
Subuh di Laut, Sarapan di Kapal, lalu Berjalan ke Goa
Ketika langit mulai beranjak cerah sekitar pukul 05.00 WIB, kapal akan bergerak menuju Bidur. Sarapan dilakukan di atas kapal. Setelah itu, peserta akan mendarat dan memulai perjalanan kaki sekitar pukul 07.00 WIB menuju Goa Sanghiang Sirah.
Pukul 10.00 WIB, rombongan akan tiba di lokasi ziarah. Suasana di dalam goa terasa hening, lembab, dan sarat akan nilai mistis yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di tempat yang diyakini sebagai tempat berkumpulnya 4.444 kekasih Allah ini, setiap peziarah dipersilakan untuk berdoa, merenung, atau sekadar duduk diam menyerap ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Namun, ziarah bukanlah satu-satunya kegiatan di sini. Pemandu perjalanan, Ka Ruyani, akan duduk bersama peserta dan menceritakan sejarah turun-temurun tentang Ujung Kulon. Bukan cerita yang dibaca dari internet atau buku panduan biasa. Ka Ruyani menerima kisah ini langsung dari Ki Nawawi, yang masih memiliki jalur keluarga dengan Mama Agung Syekh Asnawi Caringin—seorang ulama kharismatik yang nama dan barokahnya dihormati banyak orang. Dari sanalah cerita tentang Gunung Krakatau yang pernah mengubah rupa bumi, para leluhur yang menjaga kawasan Ujung Kulon, hingga mitos dan fakta yang bercampur menjadi satu, disampaikan dengan tutur kata yang hidup—persis seperti cerita yang dulu didengar Ka Ruyani dari generasi sebelumnya.
Seusai ziarah dan sesi cerita, peserta akan diajak rehat dan ngopi—sejenak menarik napas sebelum kembali menapaki jalan pulang.
Pulang dengan Cerita, Bukan Sekadar Foto
Rute pulang dimulai pukul 11.30 WIB menuju Bidur. Makan siang di kapal disiapkan sekitar pukul 13.00 WIB, sebelum kapal kembali berlabuh di Pulau Peucang. Di sinilah ruang kebebasan diberikan: berenang, berfoto, atau kembali memancing bagi yang hobi.
Pukul 17.30 WIB, kapal akan berlayar pulang menuju Dermaga Legon Guru Beach. Perjalanan resmi ditutup dengan makan malam bersama—penyudah ritual penuh makna sebelum masing-masing peserta kembali ke rutinitasnya.
Kuy… Gaskeun⛵🏇
Perjalanan ini tidak menawarkan kemewahan. Tidak ada hotel berbintang, tidak ada pendingin udara, dan tidak ada jaminan sinyal telepon selama berjam-jam. Yang ditawarkan adalah kejujuran alam, kegelapan yang tidak pernah berbohong, kisah-kisah turun-temurun yang tidak akan Anda dengar dari Google, serta goa yang—jika Anda membuka hati—mungkin akan mengubah cara Anda memandang hidup.
Open Trip Sanghiang Sirah adalah open trip perdana. Artinya, Anda bisa menjadi bagian dari sejarah pertama perjalanan ini. Sebuah cerita yang nanti bisa Anda ceritakan kepada orang lain: bahwa Anda pernah berdiri di tempat yang sama dengan 4.444 kekasih Allah. Bahwa Anda pernah mendengar langsung kisah Ujung Kulon dari mulut Ka Ruyani—yang diterimanya dari Ki Nawawi, keluarga dari Mama Agung Syekh Asnawi Caringin. Bahwa Anda pernah merasakan hening yang berbicara lebih keras dari ribuan kata.
Jika panggilan petualangan ini sampai menyentuh hati Anda, jangan ditunda.
📞 Informasi & Pendaftaran:
081213962732
Pemandu: Ka Ruyani
Biaya: Rp750.000/orang (All-in)
Waktu pelaksanaan: 25-26 Muharam 1448 H / 10–11 Juli 2026
Meeting point: Legon Guru Beach (Kumpul sebelum pukul 21.00 WIB)
Keterangan:
Perjalanan menuju Goa Sanghiang Sirah sangat bergantung pada kondisi cuaca dan gelombang laut. Jika cuaca tidak bersahabat—ombak besar, angin kencang, atau hujan deras yang membahayakan keselamatan peserta—maka petualangan tidak akan dilanjutkan ke Goa Sanghiang Sirah. Sebagai alternatif, perjalanan akan dialihkan ke area Cibom – Tanjung Layar. Di lokasi ini, peserta tetap bisa menikmati keindahan Ujung Kulon dari jalur darat, mengunjungi peninggalan Belanda (mercusuar tua dan benteng), serta tetap melakukan sesi sejarah turun-temurun dari Ka Ruyani. Jika beruntung, peserta bahkan bisa bertemu langsung dengan banteng liar khas Ujung Kulon atau—pengalaman yang luar biasa langka—badak cula satu, hewan paling dilindungi di Indonesia yang hanya tersisa di tempat ini. Keselamatan peserta adalah prioritas utama.
#opentrip #sanghiangsirah #ujungkulon.



