PC Pemuda Persis Padarincang Soroti Krisis Konsolidasi Pasca Muktamar

0
190
Ilustrasi.

Serang,fesbukbantennews.com (12/5/2026) – Dinamika yang terjadi di tubuh PP Pemuda Persis pasca Muktamar terus menjadi perhatian berbagai tingkatan pimpinan daerah. Gelombang pengunduran diri sejumlah nama dalam struktur tasykil pusat dinilai bukan sekadar persoalan teknis organisasi, melainkan sinyal adanya persoalan konsolidasi yang perlu segera disikapi secara dewasa dan terbuka.Ilustrasi.

Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Persis Padarincang, Farhan Rosyada, menilai bahwa kondisi tersebut harus dijadikan momentum evaluasi bersama demi menjaga marwah organisasi dan soliditas kader di seluruh tingkatan.

Menurut Farhan, organisasi kader sebesar Pemuda Persis tidak boleh terjebak pada suasana saling menyalahkan ataupun mempertajam polarisasi pasca Muktamar. Yang lebih dibutuhkan saat ini adalah ruang komunikasi yang sehat, keterbukaan menerima kritik, serta langkah nyata untuk membangun kembali kepercayaan internal.

“Pemuda Persis ini organisasi perjuangan dan kaderisasi. Maka yang harus dikedepankan bukan ego kelompok atau kemenangan politik sesaat, tetapi bagaimana organisasi tetap kokoh dan kader tetap merasa dirangkul,” ujar Farhan Rosyada.

Ia menilai, banyaknya dinamika dalam penyusunan tasykil pusat menjadi pertanda bahwa proses konsolidasi pasca Muktamar belum berjalan optimal. Karena itu, seluruh elemen organisasi perlu mengedepankan kebijaksanaan dan menghindari sikap defensif terhadap kritik yang berkembang di kalangan kader.

“Kalau ada keresahan dari kader di bawah, jangan langsung dianggap serangan. Bisa jadi itu bentuk kepedulian terhadap organisasi. Kritik yang disampaikan dengan niat menjaga jam’iyyah harus dijadikan bahan evaluasi bersama,” tambahnya.

PC Pemuda Persis Padarincang juga mendorong agar komunikasi antarpimpinan diperkuat secara lebih terbuka dan kolektif. Menurut Farhan, organisasi membutuhkan figur-figur yang mampu menjahit kembali energi kader pasca kontestasi Muktamar, bukan justru memperlebar jarak antarunsur di internal organisasi.

Ia menegaskan bahwa penyelesaian persoalan organisasi harus ditempuh melalui mekanisme yang bermartabat dan kelembagaan. Oleh sebab itu, langkah audiensi dan penyampaian aspirasi secara resmi dinilai lebih tepat dibanding membangun kegaduhan berkepanjangan di ruang publik.

“Kita ingin organisasi ini tetap besar, sehat, dan dihormati. Maka pendekatannya harus elegan, konstitusional, dan mengedepankan maslahat jam’iyyah. Jangan sampai energi kader habis hanya untuk konflik internal,” katanya.

Lebih lanjut, Farhan berharap PP Pemuda Persis dapat segera mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat konsolidasi nasional, membangun kembali kepercayaan kader, serta memastikan tasykil yang terbentuk benar-benar siap bekerja secara kolektif.

“Momentum pasca Muktamar seharusnya menjadi titik persatuan. Karena itu, semua pihak perlu menahan ego masing-masing dan kembali fokus pada tujuan besar organisasi, yaitu dakwah, kaderisasi, dan pelayanan umat,” pungkasnya.

Di tengah berbagai dinamika yang berkembang, sikap PC Pemuda Persis Padarincang menegaskan bahwa kritik terhadap organisasi tidak selalu berarti perlawanan. Dalam banyak hal, kritik justru merupakan bentuk tanggung jawab moral kader agar organisasi tetap berjalan pada rel perjuangan dan nilai-nilai jam’iyyah yang selama ini dijaga bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here