Pandeglang,fesbukbantennews.com (14/6/2026) – Kegiatan bertajuk “Agraria Bukan Maritim” sukses diselenggarakan pada Sabtu (13/6/2026) di Perpustakaan Jagaraksa Lembur Kula, kaki Gunung Karang, Desa Pasirpeuteuy, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang. Acara yang dihadiri ratusan peserta dan didominasi oleh petani setempat ini menjadi ruang dialog inklusif untuk membahas berbagai persoalan pertanian yang dihadapi masyarakat agraris secara langsung.
Kegiatan diawali dengan penampilan Stand-Up Comedy dari Bayu Pekijing. Melalui materi yang kritis namun menghibur, Bayu berhasil mencairkan suasana sekaligus membangun kedekatan antara narasumber dan masyarakat sebelum memasuki sesi diskusi utama.
Dalam sesi talk show yang dipandu oleh Nurul Ulfah Badarzaman, para petani menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Keluhan yang mencuat antara lain sulitnya memperoleh bibit unggul, rendahnya harga jual hasil panen akibat mekanisme pasar yang tidak berpihak kepada petani, hingga minimnya minat generasi muda untuk melanjutkan profesi bertani karena dianggap belum mampu menjamin kesejahteraan.
Menanggapi berbagai persoalan tersebut, sosiopreneur Misbah menekankan pentingnya membangun kolaborasi yang kuat untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Menurutnya, perbaikan tata niaga dan penguatan solidaritas antarpemangku kepentingan menjadi langkah penting untuk menciptakan sistem pertanian yang lebih adil.
“Saya mendukung penuh dan siap mendampingi para petani untuk bersama-sama membangun kemandirian serta kemajuan sektor pertanian di daerah ini,” ujar Misbah.
Sementara itu, Wakil II Duta Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Banten 2025, Nayla Zahroe Azharinie, menyoroti peran strategis generasi muda dalam meningkatkan nilai tambah produk pertanian lokal. Ia menilai bahwa di era digital, petani dan anak muda perlu berkolaborasi menciptakan strategi branding yang mampu meningkatkan daya saing dan nilai jual komoditas pertanian.
Pandangan serupa disampaikan oleh Jepri Pr. yang hadir sebagai influencer. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan jejaring publik untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung kesejahteraan petani. Menurutnya, pemerintah juga perlu didorong untuk menghadirkan kebijakan yang adil dan berpihak kepada masyarakat agraris.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan literasi pertanian, kegiatan ini turut diisi dengan penyerahan paket buku pertanian dari Misbah bersama Kreasi Cendekia Pustaka kepada Kang Ade, pendiri Perpustakaan Jagaraksa sekaligus pemilik Lembur Kula.
Dalam kesempatan tersebut, Misbah menyampaikan pesan yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun gerakan bersama.
“Hari ini, di Perpustakaan Jagaraksa, mari tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Menolak pasrah pada ketidaksejahteraan adalah perjuangan kolektif kita. Mari berkolaborasi, satukan kekuatan petani dan anak muda, lalu bangun masa depan dari tanah kita sendiri,” katanya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian Orasi Bumi secara teatrikal oleh Jepri Pr. sebagai refleksi pentingnya menjaga ruang hidup masyarakat agraris. Acara ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan hasil bumi serta sesi foto bersama antara narasumber, Kang Ade, dan para petani sebagai simbol komitmen kolaboratif dalam memperjuangkan kemajuan sektor pertanian.
Melalui kegiatan “Agraria Bukan Maritim”, berbagai elemen masyarakat menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak hanya bergantung pada petani semata, tetapi juga membutuhkan keterlibatan generasi muda, dukungan kebijakan yang berpihak, serta kolaborasi yang berkelanjutan.



