Refleksi Satu Tahun Budi–Agis: Bekerja di Tengah Keterbatasan

0
52
Kegiatan Budi -Agis Bareng Komunitas Peduli Sungai Banten.

Serang,fesbukbantennews.com (29/01/2026) – Satu tahun pertama kepemimpinan Wali Kota Serang Budi Rustandi dan Wakil Wali Kota Nur Agis Aulia menjadi fase penting dalam menentukan arah pembangunan Kota Serang ke depan. Periode awal ini dijalani dalam situasi yang tidak sepenuhnya ideal, salah satunya karena adanya kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat yang berdampak langsung pada ruang fiskal daerah. Dalam konteks tersebut, sejumlah kebijakan dan langkah kerja mulai terlihat, meski hasilnya masih membutuhkan waktu untuk dievaluasi secara menyeluruh.Kegiatan Budi -Agis Bareng Komunitas Peduli Sungai Banten.

Persoalan banjir tetap menjadi tantangan utama Kota Serang. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah kota mulai menempuh pendekatan yang lebih struktural, antara lain melalui normalisasi sungai, pengerukan kali, serta penertiban bangunan liar di sempadan sungai. Langkah ini bertujuan mengembalikan fungsi alur air yang selama ini menyempit akibat aktivitas manusia dan sedimentasi. Meski menuai beragam respons dari masyarakat, kebijakan tersebut menunjukkan adanya upaya menyentuh akar masalah banjir, bukan sekadar penanganan darurat saat bencana terjadi.

Penanganan banjir juga melibatkan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah provinsi, Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWS C3), serta unsur Forkopimda. Model kerja kolaboratif ini menjadi penting mengingat persoalan lingkungan dan tata ruang tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja. Namun demikian, efektivitas koordinasi tersebut masih perlu diuji melalui hasil nyata di lapangan, terutama pada musim hujan berikutnya.

Di bidang penataan kota, revitalisasi kawasan Royal Baroe menjadi salah satu langkah yang cukup menonjol. Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai pusat perdagangan tradisional mulai diarahkan menjadi ruang publik dan pusat ekonomi yang lebih tertata. Penataan ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas ekonomi, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Meski demikian, keberlanjutan pengelolaan kawasan dan dampaknya terhadap kesejahteraan pedagang tetap perlu menjadi perhatian agar revitalisasi tidak berhenti pada aspek fisik semata.

Upaya penguatan ekonomi lokal juga terlihat melalui pemanfaatan ruang publik, salah satunya di kawasan Stadion Maulana Yusuf. Berbagai kegiatan dan event yang melibatkan pelaku UMKM mulai digelar untuk menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan adanya upaya memaksimalkan aset daerah yang sudah ada, terutama di tengah keterbatasan anggaran pembangunan.

Di sisi lain, kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat menjadi faktor pembatas dalam percepatan pembangunan. Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk lebih selektif dalam menentukan prioritas, serta lebih kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Pada tahap awal ini, kebijakan yang diambil masih dapat dipandang sebagai upaya peletakan fondasi, bukan sebagai hasil akhir.

Secara keseluruhan, satu tahun kepemimpinan Budi–Agis menunjukkan adanya proses kerja dan arah kebijakan yang mulai terbentuk. Namun, tantangan ke depan tetap besar. Konsistensi pelaksanaan kebijakan, transparansi, komunikasi dengan masyarakat, serta dampak nyata terhadap kualitas hidup warga akan menjadi indikator utama dalam menilai keberhasilan pembangunan Kota Serang pada tahun-tahun berikutnya.

Refleksi satu tahun ini sepatutnya menjadi bahan evaluasi bersama, bukan hanya bagi pemerintah daerah, tetapi juga bagi masyarakat untuk terus mengawasi, memberi masukan, dan memastikan bahwa pembangunan Kota Serang berjalan sesuai dengan kebutuhan publik.

Penulis:
Funky Ramadhani
Relawan Fesbuk Banten News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here