Serang,fesbukbantennews.com (29/01/2026) – Jajaran Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Serang menilai banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Serang menunjukkan lemahnya tanggung jawab dan keseriusan Pemerintah Kabupaten Serang dalam menangani persoalan banjir yang terus berulang setiap tahun.
Banjir terparah hingga akhir Januari 2026 tercatat terjadi di Kecamatan Carenang dan Binuang. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) per 27 Januari 2026 mencatat ketinggian muka air mencapai 100 hingga 120 sentimeter, merendam permukiman warga, ratusan hektar sawah, matinya ribuan hewan ternak hingga melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Bendahara IMM Serang, Tb Eep Saepulloh Fatah, menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak dapat lagi dipandang sebagai peristiwa alam semata. Menurutnya, banjir dengan ketinggian air signifikan merupakan akumulasi dari kelalaian pemerintah daerah dalam membenahi persoalan struktural.
“Banjir ini bukan lahir dari hujan semalam. Ini akibat pembiaran bertahun-tahun, mulai dari buruknya drainase, tata ruang yang tidak terkendali, hingga lemahnya normalisasi sungai dan mitigasi jangka panjang,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Jajaran PC IMM Serang menilai Pemerintah Kabupaten Serang belum menunjukkan kepemimpinan yang kuat dalam situasi krisis. Penanganan banjir dinilai masih bersifat reaktif dan dilakukan setelah bencana terjadi, tanpa disertai langkah konkret yang menyentuh akar permasalahan.
“Jika setiap tahun air terus naik, tetapi tidak pernah ada evaluasi menyeluruh, maka yang patut dipertanyakan bukan lagi curah hujan, melainkan kapasitas dan tanggung jawab pengambil kebijakan,” kata Eep.
Hal senada juga dikatakan Sekretaris Umum PC IMM Serang, Mugni, menurutnya saat ini masyarakat yang terdampak banjir tidak sedang meminta belas kasihan kepada Pemerintah daerah, melainkan menuntut kehadiran dan akuntabilitas.
“Warga Carenang dan Binuang hari ini menagih tanggung jawab. Rumah mereka terendam, aktivitas lumpuh, dan kerugian terus berulang,” ujarnya.
Mugni juga menyoroti ketidaksesuaian antara slogan pembangunan daerah dengan realitas yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, kebahagiaan warga tidak dapat diukur dari jargon semata.
“Serang disebut bahagia, tapi warganya setiap tahun kebanjiran. Selama banjir masih menjadi rutinitas, maka yang ada bukan Serang bahagia, melainkan Serang yang dibiarkan tenggelam bersama penderitaan warganya,” tegasnya..



