Serang,fesbukbantennews.com (9/2/2026) – Tema Hari Pers Nasional tahun ini, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, terasa sangat relevan jika dikaitkan dengan isu kebencanaan, khususnya di Provinsi Banten. Pers yang sehat bukan hanya tentang kebebasan pers dan profesionalisme jurnalistik, tetapi juga tentang kemampuannya membangun kesadaran publik, menjaga nalar kolektif, serta mendorong kebijakan yang berpihak pada keselamatan dan keberlanjutan. Dalam konteks bencana, peran tersebut beririsan langsung dengan ketahanan ekonomi dan kekuatan bangsa.
Banten adalah wilayah dengan spektrum risiko bencana yang lengkap. Banjir, longsor, cuaca ekstrem, abrasi pantai, hingga potensi gempa dan tsunami menjadi ancaman nyata yang terus berulang. Di kawasan Tangerang Raya—Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan—banjir dan genangan hampir menjadi “langganan” setiap musim hujan. Dampaknya bukan hanya pada aktivitas harian warga, tetapi juga pada roda ekonomi, transportasi, dan produktivitas kawasan metropolitan. Pers yang sehat berperan penting dalam mengingatkan publik bahwa banjir perkotaan bukan semata-mata persoalan hujan, melainkan hasil dari tata ruang, alih fungsi lahan, dan pengelolaan lingkungan yang perlu dibenahi secara serius.
Masalah serupa juga dihadapi Kota Cilegon. Sebagai kota industri strategis, banjir dan genangan di Cilegon berdampak langsung pada kawasan permukiman sekaligus aktivitas industri dan logistik. Ketika kawasan industri terganggu, dampaknya menjalar pada rantai pasok dan perekonomian regional. Di sinilah peran pers menjadi penting: mengawal agar pertumbuhan ekonomi tidak mengabaikan aspek ketahanan bencana.
Di Kota dan Kabupaten Serang, banjir yang berulang di wilayah permukiman dan sekitar daerah aliran sungai menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi yang tidak kecil. Aktivitas masyarakat terganggu, layanan publik terhambat, dan kualitas hidup menurun. Pemberitaan pers yang konsisten membantu menjaga isu ini tetap berada dalam ruang publik, sehingga tidak dianggap sebagai kejadian rutin yang harus diterima begitu saja.
Kabupaten Pandeglang menghadapi tantangan banjir yang hampir terjadi setiap tahun, terutama di wilayah dataran rendah dan sepanjang aliran sungai. Banjir musiman ini berdampak langsung pada sektor pertanian, perdagangan lokal, dan UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Tanpa pemberitaan yang berkelanjutan, persoalan banjir tahunan berisiko dianggap sebagai peristiwa biasa, bukan masalah struktural yang membutuhkan solusi jangka panjang.
Sementara itu, Kabupaten Lebak kerap dihadapkan pada ancaman longsor dan banjir bandang di wilayah perbukitan. Kerusakan lingkungan, pembukaan lahan di lereng, serta minimnya mitigasi struktural masih menjadi faktor risiko utama. Pers berperan penting dalam menyampaikan edukasi kebencanaan, termasuk tanda-tanda awal longsor dan pentingnya kewaspadaan saat curah hujan tinggi, agar masyarakat tidak selalu berada dalam posisi reaktif.
Di pesisir selatan Banten, khususnya Pandeglang dan Lebak, potensi gempa bumi dan tsunami menjadi ancaman yang tidak boleh dilupakan. Pengalaman tsunami Selat Sunda 2018 menunjukkan bahwa satu kejadian bencana dapat melumpuhkan ekonomi pesisir dalam waktu singkat. Pers memiliki peran strategis untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat agar kesiapsiagaan tidak luntur seiring waktu, sehingga aktivitas ekonomi pesisir dapat berkembang dengan rasa aman.
Pers yang sehat juga memiliki peran krusial pada fase pascabencana. Transparansi penyaluran bantuan, keadilan bagi penyintas, serta keberlanjutan pemulihan ekonomi membutuhkan pengawasan publik yang konsisten. Liputan pers yang berimbang dan empatik membantu memastikan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar memulihkan kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” menemukan maknanya dalam penanggulangan bencana. Pers yang profesional dan berintegritas membantu masyarakat memahami risiko, mendorong pemerintah mengambil kebijakan yang lebih bijak, serta menjaga agar ekonomi daerah tetap bergerak di tengah ancaman bencana. Di Banten, pers bukan hanya saksi atas bencana yang terjadi, tetapi mitra strategis dalam membangun daerah yang aman, berketahanan, dan berdaulat secara ekonomi.
Tulisan ini diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bersama: bahwa memperkuat pers berarti memperkuat kesiapsiagaan, melindungi ekonomi rakyat, dan pada akhirnya membangun bangsa yang lebih tangguh.
*Penulis : H. Asep Mulya Hidayat.,MMA
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten



