Serang,fesbukbantennews.com (8/10/2026) – Momentum 500 tahun Kabupaten Serang seharusnya tidak hanya menjadi perayaan sejarah, tetapi juga menjadi ruang evaluasi terhadap perjalanan pemerintahan dan kondisi masyarakat saat ini.
Hal tersebut disampaikan Kabid Politik dan Kebijakan Publik PW Hima Persis Banten, Febry Bahri Fauzin, dalam refleksinya menyambut 500 tahun Kabupaten Serang.
Menurut Febry, usia 500 tahun bukan sekadar angka, tetapi harus menjadi pertanyaan serius tentang sejauh mana pembangunan telah membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat.
“Lima abad adalah perjalanan sejarah yang sangat panjang. Tetapi pertanyaannya, apakah panjangnya usia Kabupaten Serang juga berbanding lurus dengan kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya?” ujarnya.
la menilai, pemerintah tidak cukup hanya menjadikan sejarah sebagai momentum seremonial. Warisan sejarah, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk membangun pemerintahan yang adil, transparan dan berpihak kepada kepentingan publik.
“Sejarah jangan hanya dijadikan ornamen. Kalau kita mengenang para pendahulu, maka nilai perjuangan, pendidikan, keberanian dan keadilan yang mereka wariskan harus tercermin dalam kebijakan pemerintah hari ini,” katanya.
Febry juga menyoroti kepemimpinan Ratu Zakiyah-Najib Hamas yang menurutnya sedang berada pada fase penting untuk membuktikan mandat politik yang diperoleh dari masyarakat.
la mengakui terdapat sejumlah program pemerintah yang patut diapresiasi. Namun, apresiasi tersebut tidak boleh membuat ruang kritik terhadap pemerintah menjadi tertutup.
“Pemerintah tentu perlu kita apresiasi ketika menghadirkan kebijakan yang baik. Tetapi pada saat yang sama, masyarakat sipil juga harus tetap kritis. Sebab mandat rakyat bukan cek kosong,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan seperti pengangguran, pendidikan, pelayanan publik, lingkungan, pemerataan pembangunan, dan kesempatan ekonomi harus menjadi ukuran keberhasilan pemerintahan, bukan sekadar banyaknya program dan kegiatan.
“Pada akhirnya pemerintah tidak akan dinilai dari seberapa banyak seremoni yang dilakukan, tetapi dari seberapa jauh kebijakannya dirasakan masyarakat,” ujarnya. Febry menegaskan, Hima Persis Banten berkepentingan menjaga agar demokrasi di Kabupaten Serang tetap sehat. Kritik terhadap pemerintah, menurutnya, bukan berarti menjadi oposisi terhadap pembangunan.
“Justru kritik adalah bagian dari tanggung jawab masyarakat sipil. Pemerintah yang kuat bukan pemerintah yang tidak pernah dikritik, tetapi pemerintah yang mampu mendengar kritik, melakukan koreksi, dan membuktikan kebijakannya dengan hasil,” katanya.
Memasuki usia 500 tahun, Febry berharap Kabupaten Serang tidak terjebak dalam
romantisme sejarah, tetapi mampu menjadikan sejarah sebagai pijakan untuk
membangun masa depan.
“Lima ratus tahun adalah warisan sejarah. Tetapi lima puluh tahun ke depan adalah tanggung jawab kita. Karena itu, momentum 500 tahun Kabupaten Serang harus menjadi titik evaluasi: apakah kita hanya semakin tua, atau benar-benar semakin dewasa sebagai sebuah daerah,” pungkasnya.
*Penulis : Febry Bahri Fauzin, Kabid Politik dan Kebijakan Publik PW Hima Persis Banten



