Banten Ke Depan : Mengembalikan Arah pada Cita-Cita Pembentukan Provinsi Banten (oleh : Hajirocker *)

0
30
H Asep Mulya Hidayat/Hajirocker.

Serang,fesbukbantennews.com (4/10/2026) – Provinsi Banten tidak lahir tanpa sejarah, perjuangan, dan cita-cita besar.H Asep Mulya Hidayat/Hajirocker.

Pembentukan Provinsi Banten merupakan hasil dari perjalanan panjang masyarakat Banten yang menginginkan adanya pemerintahan yang lebih dekat, pembangunan yang lebih adil, pelayanan publik yang lebih baik, serta kesempatan yang lebih besar bagi masyarakat Banten untuk menentukan dan mengelola masa depannya sendiri.

Namun setelah lebih dari dua dekade menjadi provinsi, kita perlu berani melakukan refleksi:

Apakah Banten hari ini sudah benar-benar menjadi Banten yang dicita-citakan oleh para pendiri dan pejuang pembentukan provinsi?

Jawabannya tentu tidak sederhana.

Banten telah mengalami banyak kemajuan. Infrastruktur berkembang, pusat-pusat ekonomi tumbuh, pendidikan dan pelayanan publik terus diperbaiki, serta posisi Banten sebagai salah satu wilayah strategis nasional semakin kuat.

Tetapi di sisi lain, masih terdapat kesenjangan antarwilayah, kualitas sumber daya manusia yang belum merata, kemiskinan dan pengangguran yang masih menjadi pekerjaan rumah, persoalan lingkungan dan tata ruang, ketimpangan pembangunan pesisir–pedalaman, serta belum optimalnya pengelolaan potensi ekonomi dan sumber daya daerah.

Artinya, perjalanan Banten belum selesai.

Yang perlu kita lakukan bukan mencari siapa yang salah, tetapi menjawab pertanyaan yang lebih penting:

Apa yang harus kita ubah agar Banten kembali bergerak menuju cita-cita awal pembentukannya?

1. Kembali kepada alasan mengapa Banten dibentuk

Banten jangan hanya dipandang sebagai sebuah wilayah administratif.

Banten harus dipahami sebagai proyek peradaban daerah.

Tujuan akhirnya bukan sekadar bertambahnya jalan, gedung pemerintahan atau angka pertumbuhan ekonomi. Ukuran keberhasilan Banten adalah ketika masyarakatnya merasakan bahwa menjadi bagian dari Provinsi Banten memberikan kehidupan yang lebih baik, lebih adil, lebih aman, lebih sejahtera dan lebih bermartabat.

Karena itu, pembangunan Banten harus kembali berorientasi kepada manusia dan masa depan generasi berikutnya.

2. Mengubah paradigma: dari “membangun daerah” menjadi “membangun masa depan”

Banten memiliki modal yang luar biasa besar:

* posisi geografis yang strategis;
* kawasan industri dan perdagangan;
* pelabuhan dan konektivitas;
* pertanian dan perkebunan;
* pariwisata;
* kekayaan laut dan pesisir;
* budaya dan sejarah;
* bonus demografi;
* serta kedekatan dengan pusat ekonomi nasional.

Persoalannya bukan semata-mata apakah Banten memiliki potensi.

Persoalannya adalah apakah potensi tersebut sudah dikelola menjadi kesejahteraan masyarakat Banten.

Karena itu, paradigma pembangunan harus bergeser:

dari potensi → menjadi produktivitas;
dari produktivitas → menjadi nilai tambah;
dari nilai tambah → menjadi lapangan kerja;
dari lapangan kerja → menjadi kesejahteraan.

3. Banten membutuhkan lompatan kualitas SDM

Tidak mungkin membangun Banten masa depan dengan kualitas sumber daya manusia masa lalu.

Pendidikan harus ditempatkan sebagai investasi utama daerah.

Banten perlu membangun ekosistem pendidikan yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri, pertanian modern, teknologi, ekonomi kreatif, kelautan, pariwisata dan kewirausahaan.

Anak muda Banten jangan hanya dipersiapkan untuk mencari pekerjaan.

Mereka harus dipersiapkan untuk menciptakan pekerjaan dan memimpin perubahan.

4. Menghapus kesenjangan Banten Utara dan Banten Selatan

Salah satu tantangan besar Banten adalah kesenjangan antarwilayah.

Kemajuan kawasan industri dan metropolitan harus berjalan bersama dengan pembangunan wilayah selatan, pedesaan, pesisir dan kawasan yang relatif tertinggal.

Prinsipnya sederhana:

Tidak boleh ada Banten yang maju sendirian.

Kemajuan Tangerang harus menjadi kekuatan bagi Banten secara keseluruhan. Begitu pula perkembangan Serang, Cilegon, Pandeglang dan Lebak harus saling menguatkan dalam sebuah ekosistem ekonomi regional.

Banten harus dibangun sebagai satu kesatuan ekonomi, bukan kumpulan daerah yang berjalan sendiri-sendiri.

5. Pemerintahan harus semakin profesional, kolaboratif dan berbasis data

Cita-cita besar tidak akan tercapai hanya dengan program yang banyak.

Yang dibutuhkan adalah pemerintahan yang mampu memilih prioritas, mengukur hasil, dan berani melakukan evaluasi.

Setiap rupiah anggaran harus dapat dijawab:

Apa masalah yang diselesaikan?
Siapa yang mendapatkan manfaat?
Seberapa besar perubahan yang terjadi?

Banten ke depan membutuhkan birokrasi yang profesional, meritokratis, adaptif terhadap teknologi, terbuka terhadap kritik, serta mampu bekerja lintas sektor.

Bukan sekadar banyak kegiatan, tetapi banyak perubahan.

6. Membangun Banten dengan kekuatan kolaborasi

Pemerintah tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan Banten sendirian.

Masa depan Banten membutuhkan kolaborasi:

Pemerintah – dunia usaha – perguruan tinggi – masyarakat – media – komunitas.

Pentahelix tidak boleh berhenti sebagai slogan dalam seminar. Ia harus menjadi cara kerja pembangunan.

Dunia usaha membawa investasi dan teknologi.

Perguruan tinggi membawa pengetahuan.

Masyarakat membawa pengalaman dan energi sosial.

Komunitas membawa inovasi.

Media membawa kontrol publik.

Dan pemerintah memastikan seluruh kekuatan tersebut bergerak menuju kepentingan masyarakat.

7. Jangan kehilangan karakter Banten

Modernisasi tidak berarti kehilangan jati diri.

Banten mempunyai sejarah panjang, tradisi, ulama, pesantren, budaya, seni, pertanian, maritim dan karakter masyarakat yang menjadi modal sosial yang sangat kuat.

Banten modern harus tetap menjadi Banten yang berkarakter.

Kita boleh membangun kawasan industri modern, kota pintar, ekonomi digital dan pusat pertumbuhan baru.

Tetapi pada saat yang sama kita harus memastikan bahwa identitas, budaya dan nilai-nilai masyarakat Banten tidak tersingkir oleh pembangunan.

8. Saatnya membuat “kontrak masa depan” Banten

Mungkin yang paling penting adalah kita membutuhkan kesepakatan bersama tentang:

Banten seperti apa yang ingin kita wariskan 20–25 tahun ke depan?

Bukan hanya visi seorang gubernur.

Bukan hanya visi pemerintah daerah.

Tetapi visi bersama masyarakat Banten.

Kita membutuhkan semacam Banten Future Agenda—sebuah agenda jangka panjang yang melampaui siklus politik dan pergantian kepemimpinan.

Isinya harus konkret:

1. Banten dengan SDM unggul.
2. Banten dengan ekonomi yang menciptakan lapangan kerja.
3. Banten dengan kesenjangan wilayah yang semakin kecil.
4. Banten dengan lingkungan yang terjaga.
5. Banten yang tangguh menghadapi bencana.
6. Banten dengan pelayanan publik yang berkualitas.
7. Banten yang kuat secara budaya dan identitas.
8. Banten yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakatnya.

⸻

Penutup: Banten Belum Selesai

Para pendiri Provinsi Banten telah menyelesaikan satu perjuangan besar:

mewujudkan Banten sebagai provinsi.

Tetapi generasi kita memiliki perjuangan berikutnya:

mewujudkan Banten sebagai provinsi yang benar-benar sejahtera, maju, adil, tangguh dan bermartabat.

Karena itu, jangan berhenti pada kebanggaan bahwa kita telah memiliki Provinsi Banten.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apa yang kita lakukan dengan Banten yang telah diwariskan kepada kita?

Kita tidak boleh hanya menjadi generasi yang menikmati hasil perjuangan pembentukan Provinsi Banten.

Kita harus menjadi generasi yang menyelesaikan cita-cita perjuangan tersebut.

Banten ke depan tidak boleh hanya tumbuh.

Banten harus bertumbuh dengan arah.

Tidak cukup hanya maju.

Banten harus maju bersama.

Tidak cukup hanya memiliki potensi.

Potensi itu harus menjadi kesejahteraan rakyat.

Dan tidak cukup hanya berbicara tentang masa depan.

Mulai hari ini, masa depan Banten harus dirancang, dikerjakan, dan diwujudkan bersama.

Banten bukan sekadar provinsi.

Banten adalah amanah sejarah.
Dan masa depan Banten adalah tanggung jawab kita bersama.(LLJ).

*penulis : H Asep Mulya Hidayat. Atau biasa dipanggil Hajirocker. Lahir dan Besar di Pandeglang dan salah satu putra pendiri Provinsi Banten.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here