Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Tak Punya Biaya untuk Sekolah, Anak Pemulung di Kota Serang Pasrah

Tak Punya Biaya untuk Sekolah, Anak Pemulung di Kota Serang Pasrah

Serang,fesbukbantennews (10/4/2015) – Namanya Habibi, usinya 13 tahun. Dia yang terlahir dari keluarga pemulung itu sejak kecil sudah diajak memulung oleh orangtuanya yang juga pemulung. Sampai usianya kini mencapai sekitar 13 tahun, Junaedi tetap belum mengenyam pendidikan formal. Ia juga tidak bisa membaca dan menulis.

Habibi di rumahnya yang berlantai tanah dan atau yang bocor.(LLJ)

Habibi di rumahnya yang berlantai tanah dan atau yang bocor.(LLJ)

Anak ke 6 dari 8 saudara tersebut, merupakan warga Kampung Cipare Kidul RT 003 RW 001 Kelurahan Bendung, Kecamatan Kasemen, Kota Serang,

Keinginannya sekolah harus dia simpan dalam-dalam, dia terpaks memulung sampah untuk biaya makan sehari-hari. Begitu juga dengan 2 adiknya yang perempuan. Bahkan ayah dan ibunya juga bekerja memulung sampah. Sementara kedua kakaknya sudah menikah dan sudah tidak serumah lagi.
Habibi tinggal di rumah kecil berukuran sekitar 4X6 meter yang sangat memprihatinkan. Tembok terbuat dari bata mentah yang beberapa bagian sudah mulai melapuk dan nyaris runtuh. Bagian atapnya banyak berbolong sehingga saat hujan kerap kali kebanjiran. Habibi mengaku ingin bersekolah tetapi keluarganya tidak memiliki uang untuk mewujudkan keinginannya itu.
“Cita-cita pengen jadi guru. Supaya pinter,” kata Habibi dalam bahasan Jawa Serang, saat ditemui di rumahnya, Jumat (10/4).

Habibi mengaku sudah sejak lama menjadi pemulung meski tidak tahu sejak tahun berapa. Ia biasa pergi dari rumah sejak pukul 08.00 dan pulang pukul 13.00 bahkan pukul 16.00. Dalam sehari uang yang dihasilkan tidak menentu. Terkadang hanya untuk jajan dan bila banyak diberikan kepada orangtuanya untuk membeli kebutuhan rumah tangga.

“Ya buat beli beras kalau lagi nggak ada,” kata Junaedi yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Lokasi yang dijangkau Habibi saat memulung terbilang cukup jauh. Biasanya ia memulung di Stadion Maulana Yusuf, Terminal Pakupatan, atau daerah lainnya. Jarak antara rumahnya dan lokasi tempat ia memulung bisa mencapai puluhan kilometer. Beberapa bulan ini ia sudah mulai belajar di madrasah yang didiirkan oleh pemuda sekitar.

Junaedi, ayah Habibi, mengaku sudah lama menjadi pemulung. Ia mengakui sering mengajak Habibi memulung. Ia sendiri tidak ingat sejak kapan mulai memulung. Namun, saat ini, karena kondisi fisiknya sudah lemah, Junaedi mengaku sudah jarang ikut memulung. Lengan bagian kirinya kerap nyeri. Sampai-sampai untuk memakai baju saja ia harus dibantu oleh istri atau anaknya untuk memasukkan lengan kirinya.
“Kalau kumat suka jemper (semacam pegal-pegal bercampur ngilu-red),” katanya.
Junaedi didampingi istrinya Maryam mengaku mendukung cita-cita anaknya tetapi ia sendiri mengaku tidak memiliki dana untuk biaya sekolahnya. Sebab saat sekolah seorang anak tidak hanya harus membayar iuran sekolah tetapi juga membeli peralatan sekolah lainnya. Sementara selama ini uang yang didapatkan dari memulung hanya cukup untuk hidup sehari-hari.
Komarudin, salah satu tokoh pemuda Kampung Cipare Kidul, mengatakan bahwa sejak kecil Habibi memang sudah diajak mulung oleh bapaknya. Dan kehidupan Habibi juga seperti tidak berbaur dengan anak-anak seusianya. Namun, setelah masuk madrasah beberapa bulan, Habibi mulai memperlihatkan perkembangan positif. Ia sudah bergaul dengan anak-anak lain dan mengatakan mau bersekolah formal.
“Alhamdulilah setelah masuk madrasah ada perkembangan. Dulunya mah parah,” katanya.
Namun ia berharap, Habibi bisa sekolah di sekolah yang sama seperti sebayanya di kampung tempat tinggal Habibi.(LLJ)

Copyright @2016 FBn