ASALNA BANTEN / WAHANTEN (oleh: Agus Guntur Maulana)

0
2632

Serang, fesbukbantennews.com (3/6/2020) – Prabu Silihwangi/ Sri Baduga Maharaja Jayadewata/ Raden Pamanah Rasa menikah dengan beberapa istri (tiga istri yang terkait dan kelak anak keturunannya memiliki pengaruh kekuasaan dan kepemimpinan di tanah Banten), diantara beberapa istrinya, yaitu:

  • Nyai Kentring Manik Mayang Sunda
  • Nyai Subanglarang
  • Nyai Palagan Anggris

=====================================

Banten Lama tempo dulu. (Foto:google).

Prabu Silihwangi/ Sri Baduga Maharaja Jayadewata/ Raden Pamanah Rasa + Nyai Kentring Manik Mayang Sunda memiliki putra:

  • Surawisesa
  • Surasowan

• Prabu Surawisesa sebagai Putra Mahkota naik Tahta menjadi Raja Pajajaran berikutnya, yang kemudian anak keturunannya menyebar ke daerah Sunda Wetan (Bogor, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya, Garut, dll).

• Pangeran Surasowan menjadi Adipati di Wahanten Basisir (Banten Pesisir BUKAN Banten Girang) yang kemudian anak keturunannya menyebar ke daerah Sunda Kulon (Serang, Tangerang, Cilegon, Pandeglang, Lebak, termasuk Lampung).


Prabu Silihwangi/ Sri Baduga Maharaja Jayadewata/ Raden Pamanah Rasa + Nyai Subanglarang memiliki putra:

  • Walangsungsang/Cakrabuana/Mbah Kuwu
  • Rara Santang/ Syarifah Mudaim
  • Kian Santang/ Raden Sangara/ Sunan Rohmat

• Pangeran Walangsungsang menjadi Adipati di Caruban yang kemudian hari mendirikan Kerajaan Islam pertama di Tatar Sunda (Wetan) ketika itu masih dibawah kekuasaan Pajajaran (Caruban Nagari) dan selanjutnya menyerahkan & menobatkan Raja Pertamanya kepada Keponakan sekaligus Menantunya (Syarif Hidayatulloh + Nyai Pakungwati).

• Dewi Rara Santang ditikah oleh Syarif Abdullah Imdatuddin Wan Abdullah / Wan Bo Tri Tri (Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar al-Husaini) merupakan Raja Mesir dzuriat Rosululloh – golongan Habaib dengan nama gelar keluarga Syarif, seorang keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan (India) dan Alwi Ammul Faqih (Hadramaut) yang kemudian melahirkan Syarif Hidayatulloh/ Syekh Gunung Jati.

• Pangeran Kian Santang/ Sunan Rohmat hidupnya selalu mengembara, baik ke Sunda Kulon (Pandeglang, Lebak dan sekitarnya) maupun ke Sunda Wetan (Gadog, Garut, Sukabumi dan sekitarnya) dan cenderung berdakwah/ syiar Islam ke wilayah Sunda Kidul (dari Ujung Kulon Banten sampai dengan Pamengpeuk Garut).


Prabu Silihwangi/ Sri Baduga Maharaja Jayadewata/ Raden Pamanah Rasa + Nyai Palagan Anggris memiliki anak:

  • Prabu Suranggana/ Ki Mas Jungjunan/ Pucuk Umun Banten Girang/ Ratu Ajar Wahanten Girang.
  • Tumenggung Jayamenggala/ Ki Agus Molana.

Prabu Suranggana dan Tumenggung Jayamenggala adalah penguasa di Banten yang pertama masuk Islam yang berguru kepada Syekh Ali Rakhmatulloh/ Sayyid Rakhmat alias Sunan Ampel, Ulama asal Negeri Campa yang tiba di negeri Wahanten sekitar tahun 1445 masehi dan memperkenalkan agama Rosul kepada penduduk setempat atas izin dari Sang Surasowan (Pucuk Umun Wahanten Basisir/ Banten Pesisir) dan selanjutnya Syekh Ali Rakhmatulloh/ Sunan Ampel melanjutkan perjalanannya ke wilayah Kerajaan Majapahit untuk menemui saudaranya (fase awal Walisongo).

Prabu Suranggana berputra:

  • Ki Mas Jayakusuma/ Ki Mas Jong.

Tumenggung Jayamenggala berputra:

  • Ki Agus Ju.

Ki Mas Jong dan Ki Agus Ju adalah kakak beradik sepupu yang saat itu telah memeluk agama Islam, keduanya cucu Prabu Silihwangi/ Sri Baduga Maharaja Jayadewata/ Raden Pamanah Rasa + Ratu Palagan Anggris. Keduanya adalah Paman/ Mamang tiri dari garis Ibu (Nyai Kawunganten) Pangeran Sabakingkin/ Maulana Hasanuddin yang kelak membantu mendirikan Kesultanan Banten (Kerajaan Islam Sunda Kulon).

=====================================

Asal Penguasa Sunda Kulon (Kadipaten/ Raja daerah) Wahanten Basisir/ Banten Pesisir adalah “anak kedua” dari Prabu Silihwangi + Nyai Kentring Manik Mayang Sunda (saudara sepupu, sama-sama cucu dari Prabu Niskala Wastu Kencana) putri dari Prabu Susuk Tunggal/ Sang Haliwungan putra dari Raja Galuh/ Garut-Ciamis yang menikahi putri dari Raja Lampung, yaitu Sang Surasowan/ Sang Adipati Wahanten Basisir/ Banten Pesisir.

Sang Surasowan memiliki keturunan:

  • Pangeran Arya Surajaya
  • Nyai Kawunganten

• Pangeran Arya Surajaya/ melanjutkan tahta Kepemimpinan/ Kekuasaan Wahanten Basisir/ Banten Pesisir menggantikan ayahnya Sang Surasowan yang kemudian juga diberi gelar Prabu Pucuk Umun Wahanten Basisir.

hingga akhirnya kelak tampuk kekuasaan Pangeran Arya Surajaya (atau Prabu Pucuk Umun Wahanten Basisir/Banten Pesisir) diberikan kepada Syarif Hidayatulloh yang statusnya adalah sebagai “adik ipar dan sepupu” (karena menikahi adik perempuannya juga sebagai keponakan tiri dari Sang Surasowan) yang keduanya adalah sama-sama cucu Prabu Silihwangi. Dan pada akhirnya menisbatkan putra Syekh Syarif Hidayatulloh sebagai Raja Sunda versi Islam Islam yaitu Pangeran Sabakingkin (cicit Prabu Silihwangi).

• Nyai Kawunganten anak kedua dari Sang Surasowan yang ditikah oleh Syarif Hidayatulloh pada sekitar tahun 1475 masehi dan melahirkan dua keturunan (perempuan & lelaki):

  • Nyai Ratu Winahon/ Winangun
  • Pangeran Sabakingkin/ Maulana Hasanuddin

Nyai Kawunganten wafat dan dimakamkan didaerah Subang (Kel. Kawunganten, Kec. Kaum, Kab. Subang) yang saat itu adalah kadipaten dakam wilayah Caruban Nagari/ Cirebon, juga anak pertamanya bermukim dan beranak-pinak di Caruban Nagari, sedangkan anak keduanya (Kanjeng Sinuhun Maulana Hasanuddin) menjadi Penguasa/Raja/Sultan di Banten.

=====================================

Asal berdirinya Kesultanan Banten tidak lain karena misi dakwah dan penyebaran Islam di Jawa bagian barat atau Tatar Sunda bagian Kulon. Raja pertama Kesultanan Banten (Kerajaan Sunda Islam) merupakan cicit dari Sri Baduga Maharaja Jayadewata/ Prabu Silihwangi/ Raden Pamanah Rasa, yaitu Pangeran Sabakingkin yang kelak diberi gelar Maulana Hasanuddin. Pangeran Sabakingkin/ Maulana Hasanuddin adalah anak kedua dari pasangan Syarif Hidayatulloh bin Nyai Rara Santang binti Prabu Silihwangi DENGAN Nyai Kawunganten binti Sang Surasowan bin Prabu Silihwangi.

*Pucuk Umun adalah GELAR UMUM yang disematkan kepada pucuk pimpinan/ penguasa tinggi didalam wilayah ke-Sundaan pada saat itu, dan gelar tersebut bukan hanya terdapat di Banten saja.

*Setidaknya ada tiga tokoh yang digelari “Pucuk Umun” di Banten saat itu; (1.) Prabu Pucuk Umun Wahanten Basisir/ Banten Pesisir, (2.) Prabu Pucuk Umun Wahanten Girang/ Banten Girang, (3.) Prabu Pucuk Umun Saka Domas.

*Tokoh legenda Pucuk Umun yang beradu Ayam Jago dengan Pangeran Sabakingkin/ Maulana Hasanuddin adalah Pucuk Umun Saka Domas/ Ratu Ajar Saka Domas pimpinan/ penguasa Gunung Pulasari, Pandeglang.(/LLJ).

Disusun oleh: Agus Guntur Maulana – 1 Juni 2020

Sumber pustaka diantaranya : buku Sejarahwan & Budayawan Sunda (priangan) pa enang. Merangkum dari berbagai sumber; Carita Parahyangan, Naskah Bujangga Manik, Naskah Wangsakerta (pustaka rajya-rajya i bhumi nusantara).