ABK Bebas Keluar Masuk,PLTU 2 Labuan Diduga Abaikan Standar Penanganan Covid-19

0
891

Pandeglang, fesbukbantennews com (9/5/2020) – Ditengah pendemi Covid-19 pemerintah menghimbau dirumah saja (Lockdown), warga Carita Pandeglang yang tergabung dalam Pergerakan Rakyat Menggugat (Peak) mempertanyakan Bagaimana dengan para ABK tongkang Batubara yang berlabuh di dermaga PLTU Banten 2 Labuan? Ada puluhan tongkang Batubara yang masing masing memiliki awak.

Tongkang Batubara di Carita Pandeglang.

Tiap hari dari mereka turun kedarat pasti tidak melalui port PLTU, mereka menggunakan jasa perahu milik masyarakat sekitar.Apakah pihak terkait bisa menjamin mereka tidak mengirim virus yang mengerikan itu.

Ketika diwawancarai beberapa ABK tersebut, ternyata mereka datang dari berbagai daerah seperti: Kalimantan, Lampung, Jawa, Palembang (Bukit Asam) Ungkap Basith Djoma, selaku ketua Kampung Siaga Bencana, kepada awak media, Sabtu (9/5/20).

Mereka tiap hari berkeliaran di Labuan karena belum saatnya dapat giliran untuk bongkar Batu bara. Jadi kalau berlama lama ada di daerah kita lalu siapa tau mereka menularkan virus yang menakutkan, ini siapa yang bertanggung jawab?, tuturnya.

“Nyebrang ke Sumatera saja ditutup, ke luar kota dilarang dan tetap dirumah saja, disisi lain lalu lalang orang “ngabuburit” di area terbatas PLTU 2 Labuan menjadi bukti bahwa pihak penanggung jawab kawasan tidak sigap mengatasi pandemi yang terjadi” Katanya.

Dirinya menambahkan semua elemen mari kita bersama-sama memerangi covid-19 ini bukan hanya tugas gugus Covid-19 tetapi tugas semua elemen wajar jika saya mengusulkan hal seperti ini.

“Ternyata benar apa yang sisangkakan PERAK terhadap PLTU 2 Labuan terkait berkeliannya para ABK tongkang dan Tug boat Batubara untuk suplai ke PLTU 2 Labuan. Ungkapan ini dijawab langsung oleh management PLTU 2 Labuan saudara JUHDI sebagai pimpinan didampingi Hery selaku manager administration dan Staff lainnya, Dengar pendapat ini dilakukan di ruang rapat PLTU 2 SORE pukul 14.40 WIB Tanggal 8 mei 2020,”tegas Basit.

Tentu saja jawaban ini ,lanjut dia, sangat tidak memuaskan kami sebagai warga Labuan di keberadaan PLTU berada. Sebagai warga yang terkena imbas dari berbagai efek buruk yang diakibatkan oleh PLTU.

Dia juga mempertanyakan pernyataan pihak manajemen tersebut,ko ada element bangsa yang tidak perduli dengan saudara sebangsa lain ya ditengah pendemi Covid 19 yang sedang menjadi ancaman. Padahal mereka berada di labuan, mereka juga menghirup udara di daerah ini plus makan dan minumnya

“Jadi intinya jawaban pihak PLTU Labuan, “bukan kewajiban kami terhadap berkeliarannya ABK tongkang batubara ke PLTU di Labuan dan sekitarnya. “Tukas dia. (Don/LLJ).