Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Duh, 10 Tahun Sekeluarga di Pandeglang Terisolir di Gubug Reot

Duh, 10 Tahun Sekeluarga di Pandeglang Terisolir di Gubug Reot

Pandeglang,fesbukbantennews.com (4/11/2015) – Miris, pasangan suami – istri Nurhidayat (35) dan Leni Marlina (30), dengan enam putra-putrinya bertahan hidup selama 10 tahun di sebuah gubuk reot di Kampung Kalapa Handap RT. 04/14, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan/Kabupaten Pandeglang.

Leni sedang mengawasi dua anaknya yang bermain depan tempat tinggal mereka.(abwil)

Leni sedang mengawasi dua anaknya yang bermain depan tempat tinggal mereka.(abwil)

Selama hidup dan bernaung di gubuk yang jaraknya 3 kilometer dari pusat Pemerintahan Kabupaten Pandeglang itu, mereka harus rela tidur bertumpuk-tumpuk di atas amben yang beralaskan kasur tipis, serta terlihat tidak layak digunakan. Jika hujan turun, atap gubug itu kerap bocor dan angin dari luarpun mudah masuk ke dalam gubuk.

Meski demikian, Nurhidayat dan keluarganya merasa hidup aman, nyaman dan senang. Karena, mereka menganggap bahwa itulah surge dunianya. Disanalah mereka bisa bernaung dari panasnya terik matahari dan derasnya hujan. Bukan tidak ingin membangun rumah yang layak huni, lagi-lagi faktor ekonomi menjadi kendala utama. Kini mereka hanya bisa pasrah, dan menunggu ada orang yang bisa membantu untuk membangunkan rumah.

Setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh wartawan Nurhidayat maupun Leni, hanya bisa menangis sambil perlahan mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Raut wajah yang kebingungan, dibarengi perasaan sedih yang mendalam, ucapan yang keluar dari bibirnyapun akhirnya terpatah-patah sambil menahan air mata yang tak pernah berhenti keluar. Hatinya terasa menjerit, meminta tolong.

“Boro-boro buat bangun rumah, untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan. Pekerjaan suami saya hanya seorang pemulung barang rongsokan, penghasilannya sehari-harinya saja hanya Rp 40-50 ribu. Tolong bantu kami pak, pada siapa lagi kami mengadu ?. Sudah sekitar 10 tahun kami tinggal disini, keadaan gubug juga kalau hujan bocor,” kata Leni, sambil menangis, Selasa (3/11).

Gubuk yang di tempatinya itu, dibuat diatas tanah milik orang lain yang dipinjam entah sampai kapan.

“Kalau tidak tinggal disini, kami harus tinggal dimana lagi ?. Walau kecil dan tanah milik orang lain, gubuk ini satu-satunya tempat kami bertahan hidup. Kalau suruh pindah oleh pemiliknya, kami tidak tahu harus kemana,” ujarnya kebingungan.

Diceritakannya, ke enam anaknya baru tiga yang sudah sekolah dan yang tiga lagi masih kecil. Sebagai orang tua, Leni mengaku sangat kasihan kepada anak-anaknya.

“Kadang-kadang, kalau saya melihat anak orang lain yang tinggal di rumah permanen. Saya suka menangis, tidak tega melihat nasib anak-anak saya tinggal di gubuk seperti ini. Saya sama suami bukan tidak mau membahagiakan anak-anak, tapi apalah daya,” ujarnya lagi, sambil menangis.

Terpisah, anggota Komisi IV DPRD Pandeglang, Ade Muamar menyatakan, ia bersama rekan-rekan diinternal komisinya akan langsung bergerak cepat mengkoordinasikannya dengan Pemkab, dalam hal ini Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker).
Ia juga berjanji, hari ini akan mendatangi langsung rumah keluarga Nurhidayat. “Kami berterima kasih di kasih informasi yang sangat penting ini. Kami akan langsung koordinasi dengan dinas terkait, agar segera bergerak cepat membantu. Pasti kami kawal sampai mendapatkan bantuan, pokoknya hal ini tidak boleh disepelekan, dan jangan di nanti-nanti,” kata Ade.(abwil/LLJ)

Copyright @2016 FBn