Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Batalkan Pembangunan Masjid Hibah, Pelaksana Buat Resah Masyarakat

Batalkan Pembangunan Masjid Hibah, Pelaksana Buat Resah Masyarakat

Lebak,fesbukbantennews.com (17/11/2015) – Harapan warga kampung Pagenggang Desa Sumberwaas Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, untuk memiliki tempat peribadatan kini terkubur, pasalnya pembangunan Mesjid yang dibiayai dari dana hibah dari Negeri Timur Tengah yang disalurkan sebuah yayasan di Jakarta dibatalkan oleh pemborong.

Pembangunan Masjid hibah di Sumberwaras, Malingping dihentikan pelaksana.

Pembangunan Masjid hibah di Sumberwaras, Malingping dihentikan pelaksana.

Dituturkan Matin, selaku penyedia hibah tanah untuk bangunan Mesjid tersebut, pihak pelaksana membatalkannya dengan alasan tidak adanya masyarakat yang membantu proses pembangunan.

Padahal menurutnya, pembangunan mesjid dari program yang sama ditempat lain pun masyarakat hanya tinggal pakai, karena pembangunannya dilaksanakan oleh pihak pemborong.

“Nggak jadi dibangun, dibatalkan sama pelaksana, Padahal ditempat lain, seperti di Sukajadi misalnya, masyarakat tidak terlibat dalam proses pembangunan, karena pengerjaannya oleh pemborong” Ungkap Matin Kepada wartawan

Menurut Matin pembatalan pembangunan Mesjid ini tidak sesuai dengan komitmen awal, yang mana perjanjian awalnya Pihak pelaksana, Haji Nunu, hanya meminta disediakan lahan sebidang tanah hibah saja, tidak meminta bantuan tenaga dari Masyarakat.

“Pada awalnya dia (Haji Nunu red) nawarin program hibah mesjid, saya hanya diminta untuk menyediakan tanah hibah. Kata dia, masyarakat tidak tahu menahu dalam proses pembangunan, hanya terima ngisi saja, tapi anehnya pas proses pembangunan sudah berjalan,masyarakat diminta untuk membantu, karena katanya mesjid itu harus rampung dalam waktu sebulan” Jelasnya.

Matin menambahkan, barang barang material yang sudah dikirim ke lokasi, seperti pasir, kayu, besi dan batu bata sudah diambil kembali oleh pihak pelaksana, bahkan menurut Matin, barang yang dibawa bukan hanya miliknya saja, tetapi pasir milik matin yang disimpan tidak jauh dari tempat tersebut pun ikut diangkut.

“Barang barang yang sudah dikirim sudah dibawa lagi, besi yang sudah dipasang juga dipotongin, hanya pondasi doang yang tersisa, bahkan pasir milik saya juga dibawa” keluhnya

Dengan kondisi ini akhirnya Matin pun mengaku hanya bisa mengalah, karena ini semua menurutnya adalah kewenangan yang punya program, namun Matin pun meminta kepada pihak pelaksana agar surat pernyataan hibah tanah yang merupakan salah satu syarat penting untuk pengajuan pembangunan Mesjid tersebut agar dikembalikan lagi kepadanya, karena Matin khawatir surat hibah itu nantinya disalahgunakan.

“Kita sekarang nggak bisa apa-apa karena ini semua kewenangan mereka, saya hanya ingin surat hibah tanah itu dikembalikan, saya khawatir ini nanti disalahgunakan” tukas Matin.

Terpisah, Zaenudin salah seorang aparat Desa Sumberwaras yang menyaksikan perjanjian antara Haji Nunu dengan Matin membenarkan, bahwa menurutnya pada saat itu Haji Nunu hanya meminta disiapkan sebidang tanah Hibah saja.

“Iya benar waktu itu kan Pak Matin sama Haji Nunu datang ke kantor Desa untuk melakukan penanda tanganan surat keterangan hibah tanah, dan saya juga mendengar Haji Nunu ngomong begitu, bahwa dia (Haji Nunu red), hanya minta disiapkan sebidang tanah saja, nggak ada yang lain” ujar Zaenudin saat dihubungi wartawan melalui telepon selulernya.

Sementara Rahmat Hidayat yang sedianya selaku Imam di Mesjid tersebut membantah keras jika Masyarakat sama sekali tidak campur tangan dalam proses pembangunan Mesjid yang akan dibangun di Kampungnya tersebut.

“Siapa bilang Masyarakat nggak terlibat dalam pembangunan itu?, Saya ada foto buktinya kok, puluhan Masyarakat antusias pada saat meratakan tanah dan pengedaman lahan Mesjid itu selama beberapa hari, tapi memang ketika memasuki proses pembangunannya, Masyarakat nggak ikutan lagi, karena kan sudah dikerjakan sama pemborong, bahkan denger-denger biaya pembangunannya juga lumayan besar, 20 juta” jelas Rahmat.

Rahmat yang juga kepala Madrasah Diniyah Mathla’ul Anwar ini pun menyayangkan atas kejadian ini, Rahmat pun mengaku prihatin dan khawatir jika rencana yang baik untuk kepentingan umat ini akan berujung fitnah.

“Ini sangat disayangkan, terus terang yah, saya sangat prihatin dengan kondisi ini, karena tujuan yang sebaik ini, yang merupakan kepentingan beribadah umat, tetapi harus berakhir seperti ini, saya khawatir ini akan jadi fitnah, dan disisi lain saya pun merasa kesulitan untuk menjelaskannya terhadap Masyarakat banyak terkait urungnya pembangunan Mesjid ini. Dan saya hanya meminta kepada pihak pelaksana agar mempertimbangkan hal ini terlebih dulu” pungkas Rahmat

 

Copyright @2016 FBn