Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Waktunya Para Pemuda Nahkodai Indonesia (oleh: Rochman Setiawan*)
Rochman Setiawan.

Waktunya Para Pemuda Nahkodai Indonesia (oleh: Rochman Setiawan*)

Serang,fesbukbantennes.com – (31/10/2018) – ” Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia “, demikianlah perkataan Presiden RI pertama, Dr. Ir. H. Achmad Soekarno untuk memberikan semangat kepada para pemuda di tanah air. Saat itu, jumlah populasi Indonesia masih berada di kisaran 61 juta jiwa. Jikalau komposisi pemudanya sekitar 50 persen berarti terdapat hampir 31 juta pemuda saat itu. Saat ini jumlah penduduk Indonesia sekitar 260 juta jiwa. Artinya, jika kita anggap setengahnya adalah para pemuda, maka jumlah pemuda saat ini sekitar 130 juta jiwa, lebih dari empat kali lipat jumlah pemuda di era Soekarno.

Rochman Setiawan.

Peningkatan jumlah pemuda di Indonesia secara signifikan ternyata tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kemajuan negeri ini. Pasalnya, kepemimpinan di negeri ini masih didominasi para senior yang relatif mengabaikan potensi pemudanya. Bukan berarti para pemimpin yang tidak masuk kategori pemuda itu tidak memiliki skill dan kompetensi yang mumpuni. Hal ini lebih ke arah bagaimana mengoptimalkan para pemuda yang notabene masih memiliki jiwa idealisme tinggi untuk kemajuan bangsa dan tanah air.

Hal ini begitu urgent mengingat negeri yang sudah berusia hampir tiga perempat abad ini hingga saat ini masih terus berjalan di tempat bahkan tidak mustahil sedang berjalan mundur, na’udzubillahi min dzalik.
Negeri ini hingga kini masih bergulat dengan berbagai permasalahan. Mulai dari masalah kesejahteraan hingga masalah sosial budaya. Kesejahteraan rakyat Indonesia secara umum berada di level yang memperihatinkan. Menurut website resmi “Trading Economics” (diakses pada 31 Oktober 2018), pendapatan perkapita Indonesia adalah 63% dari rata-rata perkapita dunia. Artinya berada cukup jauh dibawah pendapatan perkapita dunia secara umum. Sebuah ironi tentunya, mengingat kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah dari Sabang hingga Merauke.

Lalu berikutnya masalah sosial budaya yang terkait dengan tingkat daya saing bangsa. Negeri ini saat ini menghadapi sebuah keadaan kritis di tengah arus globalisasi, industrialisasi dan modernisasi.

Permasalahannya bukan pada globalisasi, industrialisasi ataupun modernisasinya, melainkan pada ketidakmampuan negeri ini beradaptasi dengan perubahan zaman yang begitu cepat dan ketidakmampuan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Menurut survei “Global Competitiveness Report”, seperti dimuat dalam laman resmi “JakartaGlobe” (diakses pada 31 Oktober 2018) posisi Indonesia di kategori ini berada di urutan ke 37, jauh di bawah Singapura di poisi nomor dua dan Malaysia di peringkat ke delapan belas.

Dua permasalahan di atas hanyalah sedikit contoh dari tumpukan permasalahan yang sedang dihadapi negeri ini. Permasalahan yang tentu menjadi beban seluruh rakyat Indonesia yang sebenarnya amat berharap pada generasi pemudanya untuk bisa membawa perubahan signifikan bagi bangsa ini.

Seperti sudah disinggung di paragraf pertama, permasalahan utamanya bukanlah terletak pada kuantitas pemuda yang dimiliki negeri ini, melainkan bagaimana kualitas, potensi dan jiwa idealisme para pemuda Indonesia ini bisa tersalurkan secara optimal. Para pemuda di Indonesia seringkali menghadapi dua persoalan klasik di negeri ini. Yang pertama adalah kuatnya tradisi senioritas. Yang kedua, tradisi formalitas secara berlebihan.

Tradisi senioritas ini akan menghambat perkembangan kualitas pemuda Indonesia. Karena perkembangan itu membutuhkan kebebasan beraktualisasi secara positif, kebebasan berkarya dan kesempatan untuk maju tanpa dihalangi faktor usia.
Lalu formalitas secara berlebihan merupakan istilah yang saya gunakan untuk menggambarkan keadaan di mana formalitas mengalahkan profesionalisme. Sebuah keadaan di mana para pemuda dengan skill dan kompetensi mumpuni harus tunduk pada kebiasaan birokrasi yang kaku dan konservatif yang cenderung membatasi kreatifitas, keterampilan dan idealisme para pemuda dalam membangun negeri ini.

Singkatnya, senioritas dan formalitas secara berlebihan ini yang menjadikan negeri ini seringkali kehilangan potensi para pemudanya. Lembaga-lembaga di Indonesia mulai dari tingkat kecamatan hingga pusat umumnya kurang memberikan ruang dan kesempatan kepada para pemuda untuk menunjukkan kemampuan dan leadershipnya. Sejatinya tidak masalah negeri ini dipimpin apakah oleh para pemimpin muda atau para pemimpin senior. Namun, alangkah lebih baiknya jika para pemuda dengan potensi cemerlang diberi kesempatan untuk menunjukkan kualitas leadershipnya dan memaksimalkan pengabdiannya di negeri yang sedang merindukan masa kejayaannya ini.

Bukankah sejarah peradaban dunia menunjukkan bahwa banyak pencapaian luar biasa justru diraih oleh para pemudanya : Pemimpin Imperium Ottoman, Muhammad al-Fatih menaklukkan Ibu Kota Romawi Timur, Konstantinopel, saat ia masih berusia 21 tahun, Napoleon Bonaparte memimpin Imperium Perancis untuk menguasai Eropa sejak ia berusia 35 tahun. Bahkan, kemerdakaan Indonesia pun tidak lepas dari jasa para pemuda yang kita kenal dalam peristiwa Rengasdengklok.
Semoga, peringatan Hari Sumpah Pemuda yang kita peringati bersama belum lama ini dapat memberikan semangat baru bagi para pemuda di Indonesia dalam meningkatkan kualitas, idealisme dan partisipasi aktifnya dalam membangun negeri ini. Semoga momen ini pun dapat memberikan inspirasi baru bagi seluruh pihak agar dapat memberikan ruang dan kesempatan yang memadai kepada para pemuda Indonesia untuk berkarya sekaligus mengabdi lebih maksimal untuk tanah air Indonesia. Karena sudah saatnya negeri ini menemukan era kejayaannya dengan dinahkodai para generasi emasnya yang tidak lain adalah para generasi mudanya.

*Rochman Setiawan : Relawan Lebak Peduli

Copyright @2018 FBn