Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Untirta: Antara Utopia dan Realita (Oleh: Aris Lukman*)

Untirta: Antara Utopia dan Realita (Oleh: Aris Lukman*)

Serang,febukbantennews.com (2/5/2015) – Beberapa waktu yang lalu, muncul artikel dan berita tentang puncak-puncak jaya Untirta yang berhasil membangun kerjasama dengan sejumlah lembaga mancanegara. Pun sang penulis artikel, sumber berita, menyebut sederet angka statistik tentang jumlah doktor dan magistrato di kampus tersebut. Pada kesempatan yang lain, penulis yang sama secara bersemangat menyatakan bahwa untuk masuk menjadi mahasiswa Untirta merupakan hal yang tidak sederhana, ada proses dan seleksi bergengsi yang memberikan klaim bahwa hanya mahasiswa unggul-lah yang berhasil memasuki Untirta. Masih seabrek prestasi dan kebanggaan akademik lain yang disampaikan penulis. Tetapi, itulah utopia kampus, bagai merak mengepakan bulu di kebun tuan raja, meskipun prestasi dan pendakuan itu real dalam perspektif akademik, tetepi merak hanya melenggok di kebun tuan raja. Dunia tempat berpijak Untirta adalah tanah yang tidak hanya berisi masyarakat akademik.

Logo untirta (net)

Logo untirta (net)

Tulisan ini sedikit hendak menyajikan secara terbalik mengenai fakta alias realitas yang dilihat pada kehidupan sehari hari melintas di depan Untirta, dengan harapan Untirta dapat menjelma sebagai The Center of the growth bagi masyarakat Banten. Pada beberapa universitas di Eropa, kampus menjadi pusat pertumbuhan, di mana sistem pembangunan, konsep tata ruang perkotaan (daerah) terjalin secara integral dengan banguan kampus. Pusat kekuasaan, pemerintahan dimotori dan dipelopori oleh cara kampus memandang sesuatu. Maka jadilah kampus dan pemerintahan berjalan seiring.

Meminjam kebanggaan dan pendakuan klaim prestasi Untirta, masyarakat Banten masih melihat jauh panggang dari api mengenai hubungan antara kampus Untirta dengan Konsep Integrasi ruang kota Serang atau Banten secara umum, hubungan yang ‘tidak sejalan’ antara kampus dan otoritas pemerintahan lokal.

Salah satu ciri kasat mata yang terlihat adalah kegagalan Untirta menyingkirkan kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas yang memadat di wajah sendu Untirta. Deretan bus dan angkutan masih bersukaria menarik, menanti penumpang—yang notabene anggota kampus—memacetkan jalanan yang tidak seberapa lebar. Dari sini tergambarkan dua hal, Pertama, kealpaan komunikasi ruang antara universitas dengan anggota masyarakat kampus yang tidak mampu menempatkan diri dan membaca keadaan. Ini keterbatasan—untuk tidak menyebut kegagalan—komunikasi internal, alpa membangun kesadaran bersama bagi awak universitas dalam memanfaatkan ruang pijak sehari-hari.

Ini bukan soal naik dan turun penumpang, tetapi menyoal membangun kesadaran, mahasiswa yang diklaim terseleksi ketat, yang tidak peka terhadap tindakan individual dan keputusan sederhana mengenai “bagaimana cara mahasiswa/anggota universitas mengakses kampus dan meninggalkan kampus”. Kedua, kesemrawutan itu menandakan adanya problem positioning Untirta terhadap otoritas lokal—dalam kasus ini yang membidangi urusan transportasi. Untirta berada pada posisi ‘menerima’ ketika kebijakan otoritas transportasi lokal mendesain, mensutradarai konsep rekayasa lalu lintas, manajemen transportasi di jalur utama Untirta. Dari perspektif branding university, konsep manajamen transportasi lokal itu jelas merugikan Untirta, tetapi apa yang dapat dilakukan Untirta, berbilang bulan hal semacam itu justru dianggap sebagai gejala lumrah.

Pada problem pertama, dapat ditarik silogisme bahwa: terhadap keadaan lingkungan sekitar saja, masyarakat kampus cenderung bersikap pragmatik, “naik dan turun secara mudah, terdekat di mulut kampus”. Sikap pragmatik ini mencerminkan cara pikir masyarakat kampus yang dihasilkan oleh sistem pendidikan-intelektualitas di Untirta. Jika kecenderungan pragmatik yang muncul dan menguat, maka terdapat spekulasi bahwa ada kemiskinan dialog dan kurang pengayaan paradigma egaliterian di masyarakat kampus Untirta. “Mahasiswa pragmatis dihasilkan oleh alat cetak yang pragmatik pula”, sehingga muncul spekulasi bahwa civitas akademika juga bersikap pragmatik: mengajar dan memberikan mata kuliah, penelitian untuk karir, selesai. Kepekaan lokal dan kesadaran memahami problem pada ruang pijak masih belum dirasakan masyarakat Banten dari kampus Untirta. Untirta telah menyumbang peningkatan pendidikan dan menaikan sekian persen HDI (indek pembangunan manusia) melalui variabel pendidikan, itu suatu fakta yang tidak tersangkal. Dari sini masyarakat Banten merasa beruntung memiliki Untirta. Tetapi dari sudut kepekaan lokal masih perlu dipupuk lebih keras, ditempa oleh alat didik yang tidak pragmatik, tetapi kreatif–inovatif dan visioner.

Pada Problem kedua, membawa implikasi mengenai peta hubungan antara Kampus dengan kuasa lokal (pemerintah Banten). Pembiaran keruwetan dan sikap pasif Untirta dapat diterjemahkan bahwa ada hubungan yang tidak setara antara Untirta dengan pemerintah provinsi/daerah. Bahwa Untirta adalah serupa dengan objek pemerintahan lainnya, menerima keputusan publik dan manajemen publik yang digawangi pemerintahan lokal. Mungkin saja Untirta terlampau sibuk dengan urusan mencetak prestasi di atas kertas dan membangun kerjasama dengan lembaga mancanegara. Tetapi fakta kesemrawutan lalu lintas di depan Untirta, mencerminkan kenyataan aktual tentang relasi pemerintah daerah-kampus yang tidak sehat dan tidak berdaya. Perkara ini tidak selesai dijawab dengan alibi: Untirta sudah menyiapkan kampus baru dengan lahan baru di lahan x. Soal, Untirta membangun kampus baru adalah fakta perencanaan dan kesemrawutan adalah fakta yang sedang dihadapi, aktual, present day, setiap detik, realita. Sedangkan pembangunan kampus baru adalah soal kontingensi pembangunan dengan perencanaan. Persoalan ini dapat pula ditarik bahwa terselip sistem manajerial yang tidak visioner dan tidak membumi di kampus itu, terkonsentrasi pada internal dan lupa pada titik-titik singgung tetangga kampus.

Kemacetan di depan Untirta mungkin dipicu oleh banyak faktor, tetapi ada Untirta yang terlibat di dalamnya baik sebagai “korban” dari negatif branding, atau terlibat aktif, karena secara nyata bus-bus besar lebih suka berlama-lama di mulut wajah Untirta, dan otoritas kampus menjadi seolah tidak berdaya. Sebagai warga Banten, saya berharap bahwa Untirta akan menjadi pemicu dari pertumbuhan kota, melalui kepemimpinan yang bernas, manajerial yang peka terhadap ruang hidup bertetangga di Banten dengan konsep pendidikan yang integral dengan lingkungan, integral dalam infrastruktur dan integral dalam suprastruktur. Semoga.(LLJ)
*Aris Lukman, Warga Banjarsari, Serang

Copyright @2016 FBn