Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Tradisi Perelek Kampung Cingagoler Kabupaten Lebak Bisa Bangun Jalan Desa
Warga Cingagoler sedang gotong royong membangun jalan yang dananya Dari perelek.(onedie).

Tradisi Perelek Kampung Cingagoler Kabupaten Lebak Bisa Bangun Jalan Desa

Lebak, fesbukbantennews.com (13/7/2019) – Tradisi perelek (sumbangan atau udunan,red) warha kampung Cingagoler ,Desa Panyaungan,kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak ,Banten, berhasil membangun jalan kampung tersebut. Meskipun tidak ada bantuan dana pemerintah.

Warga Cingagoler sedang gotong royong membangun jalan yang dananya Dari perelek.(onedie).

Wandi, salah satu tokoh masyarakat setempat mengungkapkan, dana derelek di kampungnya biasanya untuk keperluan perbaikan masjid atau untuk warga setempat yang kehidupannya sangat Sulit.

Namun setelah warga melakukan urun rembug melihat kondisi jalan di kampungnya sangat parah, akhirnya ketemu kesepakatan untuk membangun jalan dari dana perelek.

“Lima tahun kebelakang Kp. Cingagoler Ds. Panyaungan Kecamatan Cihara kabupatem Lebak memiliki akses jalan yang sangat parah. Motor saja tidak bisa melaluinya apalagi “mubil”. Hasil gotong royong sering dilakukan tapi tidak bertahan lama karena apabila hujan turun jalan pasti rusak kembali,” kata Wandi, Sabtu (13/7/2019).

Melihat kondisi demikian,lanjut Wandi, pihaknya berembuk bersama Endin Doang selaku RW dan DKM masjid Jami Cingagoler, RT, dan beberapa warga untuk memperbaiki jalan rusak tersebut agar bisa bertahan lama.

“Di Cingagoler dari jaman kibenen terdapat tradisi positif yaitu “perelek” uang dan beras. Tradisi ini fokusnya adalah pemeliharaan masjid dan sumbangan untuk warga yang hidupnya “sulit bingit”. Melihat adanya sosial capital “perelek” yang sangat luar biasa kami akhirnya membuat “small forum”. “Ngawangkong” itulah yang kami lakukan. Forum “ngawangkong” / rapat menyepakati perelek yang sudah ada terus dikuatkan dan diarahkan untuk pembangunan jalan dan pemeliharaan masjid,” ujar Wandi.

Dan, Masya Alloh , lanjut Wandi, jadilah jalan rabat beton ala kampung. Jika dibangun dengan uang program mungkin bernilai ratusan juta.

“Kekuatan swadaya tenaga dan perelek ternyata bisa membuat semua jadi bernilai lebih dari sekedar uang, dan hasilnya bertahan lebih dari hitungan umur fisik program,” tegas wandi, seraya mengatakan Kini, tuntutan berbeda, jalan harus makin lebar.(LLJ)

Copyright @2018 FBn