Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Tidak Panik Saat Dilanda Gempa
Ilustrasi.(google)

Tidak Panik Saat Dilanda Gempa

Serang,fesbukbantennews.com (17/12/2017) – MASYARAKAT di wilayah Pangandaran dan sekitarnya kembali dibuat panik akibat gempa bumi berkekuatan 6,9 SR. Gempa yang terjadi Jumat (15/12/17) sekira pukul 23.45 itu telah menimbulkan kerusakan sejumlah bangunan dan infrastruktur serta sejumlah korban luka.

Ilustrasi.(google)

Seperti diberitakan sejumlah media, gempa yang terjadi pada malam hari itu juga terasa di sejumlah wilayah dekat Pangandaran. Masyarakat yang merasakan getaran akibat gempa, banyak yang panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Mereka juga khawatir akan potensi tsunami, sehingga tak sedikit yang memilih untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tapi, syukurnya gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Gempa bumi seperti yang terjadi di Pangandaran merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di banyak wilayah di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena secara geografis letak wilayah Indonesia berada di gugusan cincin api Pasifik yang kerap menimbulkan gempa.

Selain Indonesia, negara yang menjadi langganan gempa adalah Jepang. Namun yang menarik, meskipun senantiasa dihadapkan gempa yang bisa datang kapan saja, masyarakat di sana menyikapinya biasa-bisa saja. Bahkan pada saat gempa terjadi, mereka tetap terlihat tenang. Mereka juga tahu bagaimana bersikap dan bertindak ketika harus menyelematkan diri.

Seperti dilansir dari anibee.tv,  sikap tenang masyarakat Jepang menghadapi gempa merupakan hasil dari pembiasaan dan pengalaman di masa lalu. Sejak usia dini mereka telah dilatih dan dibiasakan untuk menghadapi musibah yang bisa terjadi sewaktu-waktu itu. Sejak sekolah taman kanak-kanak mereka diajarkan bagaimana menyelematkan diri, bagaimana pula menjauh dari lokasi gempa tanpa menimbulkan kekacauan. Dalam hal ini pemerintah Jepang amat fokus melakukan penyuluhan tentang gempa bumi dan tsunami.

Selain dilatih dan dibiasakan untuk menghadapi gempa atau bencana alam lainnya, pemerintah Jepang juga sukses membuat sistem informasi yang terkoneksi dengan smartphone yang dimiliki oleh setiap warga, sehingga musibah gempa dan tsunami sejak dini dapat diantisipasi. Sistem tersebut akan menyampaikan informasi sesegera mungkin melalui smartphone atas bencana gempa atau tsunami yang akan terjadi berupa suara peringatan: Jishin desu! Jishin desu!,  yang berarati “Ada gempa bumi!”.

Yang menarik lagi, untuk mengurangi dampak dari gempa tersebut, bangunan-bangunaan yang ada di Jepang dibuat dari bahan yang disesuaikan dengan kondisi tanah dan geografi negara tersebut. Mereka membuat rumah yang pada saat terjadi gempa, tidak berdampak terlalu besar baik dalam hal kerusakan maupun pada tingkat bahaya yang dapat menimbulkan korban jiwa.

Soal ini, pemerintah Jepang telah membuat aturan yang sangat ketat, di mana setiap bangunan harus memenuhi dua syarat.Pertama, setiap gedung atau bangunan harus memiliki kekuatan alias tahan gempa dalam 100 tahun ke depan. Kedua, bangunan juga harus memiliki ketahanan dalam waktu 10 tahun konstruksi. Untuk memenuhi prasyarat tersebut, maka semua bahan bangunan yang digunakan harus pula memenuhi syarat dan aturan ketat dari pemerintah.

Terakhir adalah tentang bagaimana penanganan pasca gempa atau tsunami. Pemerintah Jepang telah membuat prosedur baku soal ini. Di mana yang difokuskan adalah bagaimana mereka yang selamat dari musibah tersebut tetap bisa survive. Untuk itu, di setiap rumah pemerintah mewajibkan warganya untuk menyiapkan ransel darurat(survival kit) berisi senter, obat-obatan, selimut, masker, obat-obatan, dan makanan yang cukup untuk bertahan hidup tiga hari hingga satu minggu. Ransel beserta isinya itu wajib dibawa pada saat menyelamatkan diri dari gempa dan dapat segera digunakan untuk bertahan hidup.

Begitulah cara orang Jepang menyikapi bahaya gempa. Tidak sepanik kita yang ada di Indonesia. Mampu mengantisipasi dengan baik, mampu pula menyelamatkan diri tanpa menimbulkan kekacauan atau dampak ikutan lainnya. Padahal dibandingkan dengan di Indonesia, intensitas dan kuantitas gempa lebih banyak dan lebih sering terjadi di Jepang. Oleh karena itu, sepertinya kita harus banyak belajar kepada masyarakat Jepang dalam menghadapi musibah dan bahaya gempa maupun tsunami.

Setuju?.

Kiriman dulur FBn : Djidoel

Sumber rujukan: anibee.tv. Bagaimana Orang Jepang Menghadapi Gempa

Copyright @2016 FBn