Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Spirit Toleransi dari Banten
Masjid Peninggalan Kesultanan Banten Lama.(LLJ)

Spirit Toleransi dari Banten

Serang, fesbukbantennews.com (22/12/2017) – Banten di masa lalu pernah mencapai masa kemasan (abad 16-17). Kerajaannya begitu dikenal di nusantara maupun di berbagai belahan lain dunia. Sebuah negara kosmopolit, didatangi oleh masyarakat dari berbagai penjuru, tempat berkumpulnya beragam suku bangsa dan agama. Termasuk pula menjadi pusat ekonomi, perdagangan barang dan jasa paling terdepan di nusantara kala itu. Kondisi yang membuat Banten begitu terkenal, diakui dan disegani dalam kancah pergaulan global. Bahkan, pada masa tersebut pula Banten tercatat dalam sejarah pernah memiliki Ambassador atau duta besar di Inggris bernama Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan Kyai Ngabehi Jaya Sedana.

Masjid Peninggalan Kesultanan Banten Lama.(LLJ)

Semangat yang terbangun pada masa lalu adalah semangat keterbukaan, multikulturalisme, tidak pernah ada konflik bersifat rasial. Para pendatang dari suku bangsa lain diterima dengan begitu rupa dan dipekerjakan sesuai dengan keahlian. Tidak ada diskriminasi bagi pendatang maupun pribumi. Semangat keberagaman dalam beragama juga terpelihara dengan sangat baik. Kehadiran kelenteng di kawasan Banten Lama adalah bukti betapa toleransi antar umat beragama dibangun berdasarkan kesadaran etis.

Sebagai sebuah wilayah yang terbuka bagi suku bangsa lain, kawasan Banten Lama pada masa lalu terbagi dalam berbagai zonasi pemukiman. Ada kawasan Pecinan, Pamarican, dan sebagainya. Untuk menghubungkan masyarakat antar wilayah, selain transportasi darat, Banten pernah mengembangkan sarana transportasi air. Di bawah Pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, dibangun banyak saluran irigasi dan jalur transportasi air yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain.

Dalam buku Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, Claude Guillot Banten menyebut bahwa ketika Sultan Ageng Tirtayasa memerintah antara 1651 hingga 1682, Banten terbagi menjadi tiga bagian. Bagian tengah atau pusat kota dikelilingi banteng, hanya didiami oleh orang Banten, serta bagian timur dan barat yang didiami oleh orang asing. Memiliki dua pelabuhan, yaitu pelabuhan internasional dan pelabuhan lokal di Karangantu. Sedangkan bangsa asing yang mendiami Banten berasal dari lima bangsa Eropa, yaitu Belanda, Inggris, Portugis, Prancis dan Denmark. Sementara orang Asia yang berdiam berasal dari Tionghoa, Tamil, Moor, hingga orang Makassar yang datang berlindung ke Banten setelah negerinya diduduki Belanda. Adapun pada 1678 jumlah penduduk Banten masa itu sekitar 150 ribu jiwa termasuk wanita, anak-anak dan jompo.

Semangat keterbukaan, multikulturalisme, sikap toleransi, sistem zonasi pemukiman, dan sistem transportasi air yang dibangun oleh pemerintahan kesultanan Banten pada masa lalu adalah bentuk dari filosofi Gawe Kuta Baluwarti Bata Kalawan Kawis. Filosofi itu dapat diartikan “Membangun Kota dan Benteng dari bata dan batu karang”.

Spirit tersebut sesungguhnya memiliki makna yang amat mendalam, yang menunjukkan bahwa kesultanan Banten bukan hanya terdiri dari wilayah kota atau kerajaan, di dalamnya terdapat benteng pertahanan yang terbuat dari bata dan karang. Semboyan itu memiliki makna simbolik yang menunjukkan betapa kesultanan ini dibangun dengan spirit keterbukaan, spirit multikulturalimse, dan spirit toleransi, dengan tanpa menghilangkan jatidiri sebagai negara yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur.

Kota dan Benteng yang dibangun oleh bata dan batu karang memiliki makna bahwa Banten dibangun oleh proses akulturasi budaya, perpaduan dari tradisi agraria dan pesisir. Bata adalah simbol dari tradisi agraria, dan karang adalah simbol dari tradisi pesisir. Lebih jauh lagi, bata dan karang adalah bentuk dialektika kultural antara tradisi agraris dan pesisir. Bata adalah bentuk-bentuk dari tradisi lokal, sedangkan batu karang adalah bentuk-bentuk tradisi luar yang mewujud pada Banten terbuka, multikultural dan semangat toleransi. Dengan demikian Banten Lama adalah kawasan dan masyarakat yang dibangun oleh hasil dialektika peradaban Barat (lokal) dan Timur (suku, bangsa, dan agama dari wilayah lain).

Bagaiamana menurut Anda?

Sumber: Guillot, Claude. 2008. Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. Jakarta: KPG dan EFEO.(LLJ).

Kiriman : Djidoel.

Copyright @2016 FBn