Templates by BIGtheme NET
Home » Berita » Ramadhan 1440 Perpusda Banten : Buku , Seni dan Refleksi
Ramadhan 1440 Perpusda Banten.(istimewa).

Ramadhan 1440 Perpusda Banten : Buku , Seni dan Refleksi

Serang,fesbukbantennews.com (24/5/2019) – Dalam mengisi bulan suci ramadhan 1440 H, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPKD) Provinsi Banten bekerjasama dengan komunitas seni di Serang menyelenggarakan rangkaian acara untuk menyemarakan ramadhan. 

Ramadhan 1440 Perpusda Banten.(istimewa).

Tujuan acara tersebut adalah untuk menyemarakan ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang memiliki nilai positif, sekaligus menjadi stimulan tumbuhnya ruang kreatif di Banten, selain juga mampu menciptakan  kegiatan yang menjadi jembatan dengan kaum milenial.

Kepala Seksi Pembudayaan Kegemaran Membaca DPKD Banten Evi Saefudin mengatakan, kegiatan tersebut dimulai pada tanggal 18 mei 2019 dengan disi oleh pengajian majlis orkes. Pengajian majlis orkes adalah kegiatan semacam talkshow yg diselingi dengan bernyanyi. Pada kegiatan  NgabubuREAD edisi 1 ini diisi dengan “cacahan” yang bertema “milenial menulis” bersama Zayna Zanzani seorang penulis muda di Banten.

“Kemudian pada tanggal 24 mei 2019 diadakan kegiatan NgabubuREAD edisi 2 yang diisi dengan pengajian majlis orkes yang diisi dengan “cacahan” tentang buku kumpulan cerita sunda banten karya Arban Ramizud Raray,” ujar Evi, Jumat (24/5/2019).

Arban Ramizud Raray, lanjut Evi,  adalah seorang yang aktif di media sosial FB yg sering menulis cerita berbahasa sunda Banten. Menurut penulisnya, cerita yang ia tulis adalah pengalaman pribadi dan cerita yang didapat dari pengalaman orang lain. Hal ini dilakukan selain untuk hiburan semata, juga dimaksudkan untuk memelihara bahasa sunda Banten yang khas.

“Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan madrasah rumi. Kegiatan ini selain diisi oleh refleksi atas karya Jalaludin Rumi, juga di meriahkan dengan pembacaan puisi dan musikalisasi puisi diantaranya oleh Bambang Q Anees (akademisi UIN Bandung), Bunyamin Fasya (penyair), rosihan Fahmi (aktivis sosial di bandung), yayan Katho (seniman di bandung), rizal fauzi (penulis diserang), bowo, chairunnisa (pustakawan) dan lainnya,” kata Dia.

Menurut bambang Q anees, MADRASAH RUMI adalah event bulanan yang mempertemukan seni dan spiritualitas dalam perenungan kehidupan manusia. Dimulai sejak tahun 2016, di Bandung, kegiatan ini mengumpulkan sejumlah seniman musik, penyair, tari dan rupa untuk bersama-sama melaukan refleksi terhadap situasi kehidupan saat ini.

“Nama madrasah digunakan untuk mengingatkan kita pada kultur pendidikan agama yang pernah dialami di daerahnya masing-masing. Madrasah memang seperti sekolah, namun dalam bentuk yang informal, tidak kaku, relasi antar guru-murid dibiarkan cair, demi pencapaian tujuan penemuan kesadaran diri semua pelakunya (guru, murid, peserta, pembicara),” kata Bambang.

Nama Rumi, sambung Bambang, merujuk pada Maulana Jalaluddin Rumi, seorang sufi penyair dari Turki, yang puisi-puisi cintanya menginspirasi dunia Timur Barat. Nama Rumi digunakan karena spiritnya yang mewartakan agama sebagai cinta dan seni.

“Pada tahun 2019 ini madrasah rumi mengambil tema HIJRAH CINTA: Ada dua konsep (hijrah dan cinta) yang disatukan  menjadi tema 2019, yakni HIJRAH CINTA. Hijrah adalah proses transformasi diri dari laku negatif menuju laku serba-kebaikan,” jelasnya.

Lebih jauh dia menjelaskan,  hijrah menjadi fenomena anak millenial pada 2 tahun terakhir. Ada banyak anak-anak muda yang menekadkan diri untuk hijrah namun dengan rasa “takut”, atau “cemas akan siksaan Allah”.

“Hijrah dengan kecemasan akan menghasilkan perilaku yg kaku, tak nyaman, dan berujung pada klaim merasa paling benar seraya menyalahkan pihak lain. Hijrah tentu saja positif, namun tanpa cinta hijrah akan menjadi trasnformasi yang menyakitkan,” ujarnya.

Cinta, papar Bambang, dimiliki dan dialami semua manusia (minimal cinta dari kedua orangtuanya), menjadi modal untuk menemani dan sebagai jangkar nilai seluruh proses transformasi diri. Ketegangan sosial politik akhir-akhir ini diduga karena hasrat hijrah yang berlebihan yang tak didasari oleh CInta, maka Hijrah Cinta dapat menjadi tema yang meruwat kehidupan sosial politik keagamaan bangsa ini.(LLJ).

Copyright @2018 FBn