Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Pembangunan Kota Serang Semakin Tidak Jelas dan Berpotensi Jadi Kota Gagal

Pembangunan Kota Serang Semakin Tidak Jelas dan Berpotensi Jadi Kota Gagal

Serang,fesbukbantennews.com (14/7/2015) – Meski Kota Serang mengalami perkembangan signifikan dibandingkan dengan saat mulai dimekarkan pada tahun 2008 lalu. Namun pembangunan di Kota Serang tidak direncanakan sejak awal sehingga berpotensi menjadi kota gagal.

Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia Provinsi Banten Mukodas Syuhada

Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia Provinsi Banten Mukodas Syuhada

Demikian terungkap diskusi dengan tema ‘Penyediaan ruang publik sebagai upaya mewujudkan Kota Serang Madani’ di Rumah Dunia, Ciloang, Kota Serang, Senin (13/7).

Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia Provinsi Banten Mukodas Syuhada saat menyampaikan materinya mengatakan bahwa pembangunan di Kota Serang sudah mengalami kemajuan. Terbukti sudah banyak mal dan tempat makanan cepat saji di Kota Serang. Jalan juga sudah banyak diperlebar dan ditata. Hanya sayang pembangunan Kota Serang belum mengacu pada penataan kota dalam jangka panjang dan masih seperti kota-kota gagal di Indonesia.

“Bandung juga sebetulnya kota gagal. Setelah Ridwan Kamil ini baru mulai ditata,” kata Mukodas.

Selain Mukodas, dalam kesempatan tersebut hadir Kepala Dinas Tata Kota Serang M Ridwan, Ketua Komisi IV DPRD Kota Serang Firdaus Gozali, dan pendiri Rumah Dunia Gol A Gong.
Mukodas menyatakan bahwa konsep penataan kota ke depan seharusnya lebih memprioritaskan pembangunan ke atas dan tidak bersandar pada tanah. Artinya, pembangunan jalan maupun gedung seharusnya dibuat ke atas. Ia sendiri memiliki konsep the flying city atau kota melayang. Semua bangunan dan jalan dibuat di atas (tidak menyentuh tanah) sehingga seperti melayang.
“Konsep the flying city saya temukan tahun 2011. Ini awalnya untuk daerah Kebon Jahe ke Palima,” katanya.

Mukodas menyatakan bahwa the flying city menjadi solusi pembangunan jalan dengan anggaran lebih murah. Bila pembangunan jalan di atas tanah harus membebaskan lahan dan membutuhkan anggaran besar, membuat jalan layang tidak akan membutuhkan pembebasan lahan. Sayang sampai saat ini belum ada kabupaten/ kota di Banten yang mau mengadopsi konsep the flying city. “Justru sekarang yang menerapkan konsep ini adalah DKI Jakarta,” kata Mukodas.

Wakil Wali Kota Serang Sulhi mengatakan bahwa Kota Serang memang harus ditata ulang. Rencana tata ruang wilayah yang selama ini sudah ada harus diperjelas dengan rencana detail tata ruang. Ia juga mengakui perlu adanya konsep yang jelas akan dibuat seperti apa Kota Serang ke depan. Meski demikian, konsep itu harus disesuaikan juga dengan struktur, potensi, dan budaya yang ada di Kota Serang. “RTRW kan masih bersifat umum. Karena itu harus diperjelas. Misalkan kawasan pertokoan, maka harus diperjelas toko apa saja di situ,” kata Sulhi.

Sulhi juga mengaku sangat tertarik pada konsep flying city. Ini akan menjadi solusi penbangunan Kota Serang ke depan, mengingat pertumbuhan penduduk Kota Serang sangat pesat, sementara luas lahan tidak seberapa. Dengan demikian, maka sempitnya lahan akan terjawab untuk menyediakan infrastruktur di Kota Serang. “Saya sangat respect dengan konsep the flying city ini. Kita akan terapkan konsep ini,” tutur Sulhi.

Sulhi menambahkan bahwa Kota Serang Madani dalam bayangannya adalah kota serupa Kota Madinah, di mana masyarakatnya dekat dengan Tuhan, saling menghormati, dan kotanya kota metropolitan. Namun dalam realitanya Kota Serang didera kemacetan, khususnya pada pagi dan sore hari. Kota Serang yang kecil dan tidak terlampau luas ini sudah memiliki masalah serius. “Pertumbuhan penduduk Kota Serang juga sangat pesat, dari semula hanya 400 ribu jiwa saat ini sudah 700 ribu lebih,” kata Sulhi.(aden/LLJ)

Copyright @2016 FBn