Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Menagih Janji Alat Negara Atas Keutuhan Tatanan Hidup di Negeri Yang Ber-PANCASILA*
Tubagus Saptani Suria.(ist)

Menagih Janji Alat Negara Atas Keutuhan Tatanan Hidup di Negeri Yang Ber-PANCASILA*

Serang,fesbukbantennews.com (31/5/2016) – Belakangan ini melalui media masyarakat sudah mengetahui ada upaya pemerintah (Jokowi) sebagai alat Negara menerbitkan pepres terkait 1 juni sebagai hari lahir Pancasila. Ada yang berpendapat dengan catatan tidak hanya sekedar peringatan. Tetapi di jalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegera bagi semua lapisan masyarakat.

Tubagus Saptani Suria.(ist)

Tubagus Saptani Suria.(ist)

Upaya pemerintah tersebut berawal ketika melihat banyaknya muncul persoalan di Negeri ini. Sehingga memandang perlu segera menerbitkan pepres terkait peristiwa 1 juni. Mestinya dalam upaya tersebut di selipkan pemerintah juga turut mensosialisasikan bahwa Pancasila bukan 4 pilar kebangsaan dan tidak hanya sekedar falsafah. Tapi Pancasila harus dengan senyata-nyatanya di Budayakan dalam kehidupan. Terutama kehidupan yang di mulai dari pemimpinnya di tingkat pusat sampai ke tingkat kepala keluarga. Bahwa Budaya Pancasila dapat memberi teladan, lewat keteladanan inilah dapat membimbing perilaku masyarakatnya.

Dengan demikian Pancasila bisa dapat di pahami pada level Normatif (memahami sila demi sila) dan level substantif (mengubah perilaku). Karena dalam kurun waktu lebih dari 7 tahun belakangan ini Negara terancam disintegrasi Bangsa. Tidak hanya itu makin suburnya perilaku kekerasan, intoleransi, diskriminasi dan perilaku koruptif yang sulit di tanggulangi. Hal tersebut adalah fakta yang butuh perhatian semua pihak.

Kita harus sadar untuk kembali belajar mencermati bahwa Bung Karno 71 tahun lalu hanya mengantarkan Pancasila pada ruang gagasan di depan sidang BUPKI. Dengan demikian seharusanya kita yang sudah terlepas dari cengkraman era orde baru lebih mengerti makna Pancasila. Karena dahulu orba menutup peristiwa 1 juni cuma dikarenakan ingin melanggekan pusat kekuasaan hingga 32 tahun. Seharusanya di era reformasi (walau kebablasan) lebih mengedepankan Pancasila sebagai pedoman perilaku.

Semoga kedepan eksistensi dan implementasi Pancasila tidak hanya sekedar berhenti menjadi slogan. Apalagi menjadi multi tafsir untuk kepentingan politik jargon di elite partai. Dengan demikian langkah kita telah berani kembali menegaskan orientasi jatidiri Bangsa ini terletak didalam penghayatan yang terkandung di dalam nilai-nilai Pancasila. Sehingga tidak ada lagi kegelisahan terstruktur yang memudarnya kesadaran untuk kembali ber-Pancasila di Negeri Indonesia.(LLJ)

*Tubagus Saptani Suria, Budayawan.

Copyright @2016 FBn