Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Manusia Akar dari Pontang Dapat Bantuan dari Baznas Banten

Manusia Akar dari Pontang Dapat Bantuan dari Baznas Banten

Serang,fesbukbantennews (5/4/2015) – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Banten memberikan bantuan untuk keperluan pengobatan “manusia akar” warga Desa Kubang Puji, Kecamatan Pontang Kabupaten Serang, Jumadi (35).

Jumadi didampingi ibunya memperlihatkan bantuan dari Baznas Banten

Jumadi didampingi ibunya memperlihatkan bantuan dari Baznas Banten

Meski bantuan tersebut tidak mengcover semua pengobatan Jumadi,namun hal tersebut bisa mengurangi beban biaya pengobatan Jumadi selama pengobatan di RSCM Jakarta.

Salah satu pengurus Baznas Banten Mey Husen mengatakan, diharapkan dengan bantuan tersebut bisa meringankan beban yang dialami Jumadi. “Semoga bantuan ini bisa meringankan beban pak Jumadi,” katanya, Sabtu (4/4/2015) kemarin.

Di juga mengatakan, pemberian bantuan juga sebagai wujud bahwa Zakat dan infak dari muzaki salah satu fungsinya untuk membantu kaum dhuafa. ” makanya kami menghimbau kepada warga di Banten untuk tidak lupa dan tidak segan memberikan zakatnya melalui Baznas,” tegasnya.

Sementara, relawan yang mendampingi Jumadi mengungkapkan,saat ini manusia akar tersebut sedang menjalani pengobatan di RSCM Jakarta. Dan butuh biaya besar untuk Jumadi selama pengobatan di Jakarta.

“Selain biaya obat, juga dibutuhkan untuk transportasi, akomodasi dan konsumsi untuk keluarga pak Jumadi yang mendampingi selama pengobatan. Selama ini pak Jumadi kebutuhannya menunggu belas kasih orang saja. Pemerintah belum memberikan bantuan, Hanya janji saja,” tegas Rully.

Kartu BPJS tak mampu membiayai kebutuhan obat-obatan yang dibutuhkan penderita gangguan kulit langka (Epidermodysplasia Verruciformis) atau biasa disebut manusia akar, hanya mampu pasrah jika mau menebus obat tak punya uang.

Seperti pekan ini, Jumadi diharuskan membeli 10 butir obat untuk mencoba meluruhkan kutil di seluruh tubuhnya. ” harus beli 10 butir, sebutirnya Rp70 ribu,” kata Surohman, adik Jumadi kepada FBN.

Dia pun mengaku bingung, harus dari mana mendapatkan uang untuk membeli obat tersebut. Belum lagi untuk kebutuhan makan serta akomodasi ibu Jumadi yang mendampingi anaknya selama pengobatan.

Rully jug menceritakan, Jumadi pernah berobat ke RSCM pada 2012 lalu. Lantaran kekurangan biaya, terpaksa pengobatan terhenti.

“Saat itu, Jumadi bisa berobat lantaran memiliki Jamkesda. Namun sekarang tak ada Jamkesda, meski memakai BPJS. Ia sendiri takut menggunakan BPJS, lantaran meski memiliki BPJS, tetap saja harus merogoh kocek untuk keperluan obat yang tak dicover BPJS,. Serta untuk makan dan transportasi selama pengobatan, ” tegas Rully. (LLJ)

Copyright @2016 FBn