Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Kang Ganteng dan Nong Cantik (Oleh : Indra Kusumah*)
Indra Kusumah.(ist) .

Kang Ganteng dan Nong Cantik (Oleh : Indra Kusumah*)

Serang, fesbukbantennews.com (1/12/2017) – Di jaman yang sesak oleh rupa kecantikan, ndak saja perempuan, banyak kaum laki laki gemar mendandani dirinya. Keduanya memilih “salon” untuk merawat segala kebutuhan estetika tubuh, menariknya, habitus mengkonsumsi produk yang berhubungan dengan “kecantikan” menjadi hal wajib. Konon di dalam kisah mengestetikakan tubuh, selain soal bentuk tubuh ideal, nasib jerawat dan bau ketiak kerap mendapatkan perlakuan yang ndak adil, padahal keduanya lahir dari perilaku “kotor” njenengan—lahir dari siklus biologis tubuh, tetapi begitu gigih diperangi dengan keji—hak hak hidupnya di tubuh dipasung. Memeranginya semacam jihad besar. Njih, setelah memenangkan semua pergulatan “memanusiakan” tubuh seestetis itu, lantas njenengan hendak menuju kemana sekarang? 

Indra Kusumah.(ist) .

Di tubuh estetik yang tengah dirawat dan diperjuangankan—–meski njenengan telah merasa mirip dengan Angelina Jolie dan Brad Pitt, hal berikutnya, di dunia yang seolah dikesankan Wonderfull dan Exciting, kekhusuyan njenengan menikmati foto atau video hasil editan seperti mengamini ideologi. Dengan getol mata fisik njenengan secara ideologis menerus mengunduh pesan bertubi tubi dan merekamnya di alam bawah sadar, bahwa yang dilihat di dalam rupa editan tersebut adalah realitas sesungguhnya—-di luar itu semua adalah palsu. Padahal, kemolekan dan estetika yang di visualkan—-satu tanda kian miskin dan rupa ketidakjujuran mata fisik nyakseni realitas. Dunia editan adalah manipulasi kapitalistik yang menginginkan njenengan menjadi sesuatu yang ndak lahir dari identitas njenengan sendiri—–semacam kerja kerja estetika yang di organisir untuk meruntuhkan nilai nilai realitas dan identitas itu sendiri. Tubuh dan jiwa njenengan kemudian milik gambar gambaran dunia asing, wujud visualisasi yang ndak dilahirkan dari rahim ibu njenengan, tetapi kemudian dipaksakan untuk dikenakan—-menjadi mirip dan seragam. Lantas jika kini njenengan adalah orang lain dan seragam itu, hendak menuju kemana sekarang?

Menerus mengamini sesuatu yang bukan milik sendiri, sekaligus menjadi sesuatu yang ndak bermuasal dari realitas nyata. Maka menjadi ndak terawat, ndak lulus “Make Over”, opo meneh ndak kian ganteng, cantik dan exciting, dianggap ndak kekinian. Dituding ndak kontekstual dengan iklan iklan kecantikan dan visualisai realitas yang lalu lalang di teve serta online Shop. Atau, ndak berbanding lurus dengan cita cita dunia baru yang terus memoles kemolekan di tengah kemiskinan dan korupsi yang kian maju tak gentar. Njenengan menerus diproduksi dan direproduksi menjadi produk produk estetika visual, diberi penandaan identitas identitas baru, label, barcode, harga, diskon diskon, dll. Identitas identitas baru itu menjadi bentuk bentuk visual baru atas nama merayakan keindahan. Maka, tanpa disadari kini setiap njenengan adalah pemuja yang kian “gila” mengkonsumsi. Njenengan akan menerus didaur ulang agar bermanfaat, dirawat agar estetis dan kian visual di dalamnya. Lantas, setelah semua peristiwa keindahan itu menjadi konsumsi bagi njenengan; dikunyah, ditelan, dicerna, dan menjadi nilai nilai kebenaran, sekarang njenengan hendak kemana di dunia yang serba diproduksi dan konsumtif ini?

Sebagai bagian produk yang bernyawa, dunia ini kian seksi memanjakan njenengan menjadi mesin mesin keindahan—-apik menghadirkannya dengan banyak cara dan kehendak. Di antaranya menjadikan setiap yang serba ganteng, cantik, visual nan indah menjadi kemasan komodititas. Tentu bukanlah sesuatu yang salah jika keindahan dan kecantikan yang njenengan milik patut untuk dirawat, itu modal dari Gusti Allah yang juga patut di jaga. Pun jika modal tersebut akhirnya menjadi konsumsi komoditas, sekurangnya njenengan menjadi konsumsi komoditas yang memosisikan kejujuran sebagai nilai, yang kekeh setia mengidentitaskan diri sebagai manusia di hadapan nilai nilai estetika kapitalisme. Bahwa di dalamnya njenengan bukanlah perabot yang melengkapi ruang—–tetapi sebaliknya ialah ruang absolut. Bahwa di dalamnya njenengan bukanlah barisan etalase di toko toko yang menawarkan senyum paling indah dan sikap mesam mesem kepada setiap manusia, tanpa memahami apa yang sesungguhnya sedang dilakukan. Bahwa di dalamnya njenengan memiliki keberanian untuk menyampaikan kejujuran dihadapan para wisatawan terkait kondisi pariwisata di Pantai Anyer yang berpuluh puluh tahun tidak tertata dan tak terawat, atau kondisi pantainya tidak se-Exciting yang digambarkan dalam foto dan video video—- tetapi musabab kejujuran tersebut, njenengan mampu menghadirkan para wisatawan untuk tetap berkunjung. Dan bahwa njenengan ketika melakukan semua itu, bukanlah sesiapapun di dalam hiruk pikuk agenda agenda tahunan Miss Univers, Putri Indonesia, Kang Nong, Dupar, dll. Lantas, jika njenengan bukan sesiapapun bagi bentuk bentuk rupa keindahan, maka sesekali mencintai jerawat dan bau ketiak di tubuh njenengan adalah merawat sesungguhnya sungguhnya realitas; kotor dan bau. Dan itu salah satu dari sekian sisi eksotisme njenengan.
*Penulis | Pemerhati budaya, kartunis dan Ketua Majelis Kebudayaan Cilegon

Copyright @2016 FBn