Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Duh, Seorang Pemuda di Kabupaten Serang Ngaku Rosul dan Mampu Belah Bulan

Duh, Seorang Pemuda di Kabupaten Serang Ngaku Rosul dan Mampu Belah Bulan

Serang,fesbukbantennews.com (21/2/2016) – Ngaku sebagai Rosul yang mampu terbang ke langit dan membelah bulan, Arifin (28) gegerkan warga Kampung Pabuaran, Desa Malanggah, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, Banten.

Ubed dan Anaknya Aden, yang jadi korban Rasul palsu, Arifin.

Ubed dan Anaknya Aden, yang jadi korban Rasul palsu, Arifin.

Tersebarnya kasus dugaan penistaan agama ini kemudian dilaporkan oleh Ubed Zubaedillah (65) salah satu orang tua korban yang resah akan perilaku anaknya yang mulai menyimpang.

Ubed, saat ditemui dikediamannya di Kampung/Desa Panyabrangan, Kecamatan Cikeusal Kabupaten Serang, Ubed Zubaedillah menuturkan keresahannya memuncak ketika putra ke tujuhnya, Salman Al Farizi (21) alias Aden, Kamis (18/2/2016) malam lalu pulang ke rumah bersama sejumlah rekan-rekannya di Pondok Pesantren Jamiatul Ikhwan, Malanggah, Tunjung Teja. Saat itu dirinya diminta oleh Aden untuk ke ruang tamu untuk menemui Arifin. Dalam percakapannya, Arifin meminta dirinya agar mempercayainya sebagai seorang Rosul. Kondisi itu membuat dirinya emosi dan naik pitam.

“Jadi malam itu sekitar pukul 22.00 WIB, anak saya, Aden, datang bersama teman-temannya. Ia minta saya menemui Arifin, pas duduk dilantai bertiga Arifin mengaku seorang Rosul, bahkan anak saya Aden sudah dijadikan Sunan Kudus. Kemungkinannya anak saya sudah kena hipnotis oleh si Pelaku, karena anak saya sampai meminta maaf dan mengatakan maaf tuan rosul, bapak saya ga percaya kepada si Arifin. Pengakuan Arifin diungkapkan berulang-ulang hingga saya marah dan menggebrak ubin, karena saya nilai ini sudah keterlaluan dan menyimpang, anak saya dan si pelaku ini pun loncat keluar ketakukan,” tutur Ubed.

Setelah, dirinya mengamuk dan mengumpat perbuatan Arifin, kata Ubed, anaknya beserta rekan-rekannya pun akhirnya tersadar. Anaknya yang lain kemudian mengejar Arifin yang lari ketakukan dan membawanya kembali kerumahnya untuk di interogasi. “Pas saya ngamuk, ga lama anak saya dan teman-temannya tersadar. Si Arifinnya lari tapi kemudian ditangkap sama anak saya. Warga pun berdatangan karena dikiranya saya sedang memarahi anak saya. Pas kita interogasi korban-korban si Arifinnya, ternyata memang sudah di atur sebelumnya, jadi nanti pengikut-pengikut Arifin ini bakal di sebar diseluruh pulau Jawa, dari Banten hingga Jawa Timur. Saya bilang begini ke dia, Jangankan kamu, guru kamu datangkan ke saya, Al Quran apa yang kamu pelajari? Memang kelakuan si Arifin ini juga ga sopan,” kata Ubed.

Ubed menerangkan, Kasus itu kemudian dilaporkan ke Kepala Desa Panyabrangan dan Kepala Desa Malanggah, Tunjung Teja untuk diproses secara hukum. Ia merasa dirugikan karena proses pembelajaran anaknya terganggu.

Apalgi, sambung Ubed, perbuatan Arifin membuat anaknya dikhawatirkan mengalami gangguan kejiwaan atau psikis. “Malam itu juga langsung saya laporkan ke Kepala Desa Panyabrangan dan kita juga langsung laporan ke Kepala Desa Malanggah. Untung langsung di ciduk Polisi, kalau tidak, pasti habis itu Arifin karena warga sini juga sudah sangat marah,” pungkas Ubed.

Ditempat yang sama, Aden yang terlihat masih shock mengaku ia baru mengenal Arifin sekitar 10 hari. Karena Arifin merupakan santri baru di Pondok Pesantren Jamiatul Ikhwan, sedangkan ia sendiri sudah lima tahun menimba ilmu dipondok itu. Ia mengaku tak sadar sudah berjalan kaki dari Pondok ke rumahnya selama 2 jam. Saat menjadi pengikut Arifin, ia pun mengerti kenapa selalu mengikuti perintahnya. “Pokoknya saya nurut sama dia, padahal sebelumnya saya sempat bilang ke orang-orang kalau Arifin itu Gila karena mengaku-ngaku Nabi. Saat Bapak saya mengamuk pun saya masih belum sadar, kata Arifin saya ini adalah titisan dari Roh Sunan Kudus, jadi raganya saja yang Aden, tapi jiwanya Sunan Kudus,” kata Aden.

Aden menerangkan jika, tiga hari sebelum puncak kejadian, ia bersama lima teman pondoknya sudah menjalani ritual memasukan roh-roh leluhur di rumah salah satu Kakaknya di Cikeusal. Ritual tersebut bertujuan agar pengikut Arifin menjadi kuat dalam segala hal.

“Waktu malam Selasa kemarin, memang kita jalani ritual dirumah teteh saya, ritual itu untuk memasukan roh-roh tokoh-tokoh sakti. Misalnya saja Ibnu Soleh kakak saya, yang kedua si Haris, Umam, Pipit, Ria mau dimasukin roh-roh itu, kalau saya kan sudah kena kenanya Roh Sunan Kudus, kakak saya angling dharma, Ria roh Hindun, si Pipit kemasukan Roh Siti Ruqoyah, kalau si Hari roh Brama kumbara, Umam menjadi Jaka Sembung. Jadi ritualnya dijadiin begitu,” ungkap Aden.

Aden menambahkan, saat akan berangkat untuk membaiat Ayahnya, ia sempat berbincang dengan Arifin dan berencana untuk mengahncurkan Ponpes Pimpinan H. Hudhori tersebut karena dinilai tidak sepaham. Bahkan, untuk melancarkan aksinya tersebut Arifin meminta keponakannya untuk mengambil tanah kuburan dari Banten untuk disiramkan ke sekitar Ponpes. “Jadi Arifin bilang gini. Kalau jam 12 malam berhasil menyakini Bapak saya, kita langsung balik lagi ke Pondok dan menyakinkan pimpinan Pondok untuk dapat menjadi pengikutnya. Dia bilang gini, kalau Pak Haji Hudori ga percaya saya Rosul, tak ajak terbang ke langit, kalau ga percaya lagi, nanti saya turunkan hujan, terus kalau ga percaya lagi akan saya belah bulan jadi dua. Posisi saya saat sadar tapi pasrah, mau berontak tapi susah,” pungkas Aden.(aden/LLJ)

Copyright @2016 FBn