Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Duh, Rumah Tidak Layak Huni Masih Banyak Bertebaran di Ibukota Provinsi Banten
Kondisi Salah satu rumah pasutri (pasangan suami istri) dari Pardi (60) dan Sani (50) warga Kemanggisan, RT 07, RW 02, Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Walantaka, ini sudah hampir 7 tahun lamanya dan tidak layak huni, (14/9).

Duh, Rumah Tidak Layak Huni Masih Banyak Bertebaran di Ibukota Provinsi Banten

Serang, fesbukbantennews.com (14/9/2018) – Semenjak Kota Serang memisahkan diri dari Kabupaten Serang pada tahun 2017 lalu dan status Kota Serang langsung menjadi Ibu Kota Provinsi Banten sampai saat ini. Namun kondisi tersebut masih dikatakan miris, karena masih banyak warganya dibawah garis kemiskinan. Contoh yang saat ini ada di Kota Serang seperti masih banyaknya Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dibeberapa daerah, bahkan kurang lebih ada 50 rumah di Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Walantaka tidak layak huni.

Kondisi Salah satu rumah pasutri (pasangan suami istri) dari Pardi (60) dan Sani (50) warga Kemanggisan, RT 07, RW 02, Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Walantaka, ini sudah hampir 7 tahun lamanya dan tidak layak huni, (14/9).

Salah satu rumah pasutri (pasangan suami istri) dari Pardi (60) dan Sani (50) warga Kemanggisan, RT 07, RW 02, Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Walantaka, ini sudah hampir 7 tahun lamanya tidak pernah direhab karena keterbatasan biaya, bahkan pasangan yang saat ini menghidupi empat orang anak tersebut hanya pasrah kepada pemerintah agar rumahnya segera diperbaiki, lantaran kerjaan suaminya kuli serabutan.

“Jangankan buat perbaiki rumah, bisa makan saja sudah sukur pak, apalagi anak masih kecil-kecil bahkan biaya sekolah pun pusing mikirinnya karena saya kerja kuli serabutan,” kata Pardi kepada Banpos saat ditemui dikediamannya, Jumat (14/9).

Rumah berukuran 5×3 dengan tidak memiliki kamar tidur ini jika musim hujan turun, kata Pardi, harus bisa sabar dengan banyaknya air yang masuk pada kediamannya, karena banyak atap yang sudah pecah. “Kalau musim hujan bocor, apalagi kalau hujan turunnya di malam hari, kita tidak bisa tidur,” ceritanya.

Ia berharap kepada pemerintah, baik pemerintah setempat ataupun pemerintah daerah untuk memperhatikan dan bisa membangun rumahnya supaya ada kata layak. “Semoga aja ada bantuan, tolong mas sampaikan kepada pejabat agar bisa dibangun total,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Staf Kelurahan Pabuaran, Maryani mengungkapkan bahwa di Kelurahan Pabuaran ada sebanyak 50 rutilahu, salah satu nya rumah Pardi.

Dikatakan Maryani, dari 50 rumah itu tersebar dimasing-masing RT. “Dikelurahan Pabuaran itu kan ada 14 RT dan 4 RW, sedangkan jumlah jiwa ada 4.000 jiwa, rata-rata pekerjaannya kuli serabutan, makannya tidak aneh kalau banyak rumah tidak layak,” kata Maryani saat ditemui di kantor Kecamatan Walantaka.

Namun dikatakan Maryani, hampir setiap tahun pihaknya mengajukan bantuan baik ke Kecamatan maupun Pemkot Serang, tapi sampai saat ini masih belum diberikan bantuan. “Dulu pernah ada perbaikan pada tahun 2010 lalu, itupun tidak full rehab tapi diberikan alatnya saja dan sebagian, setelah itu dan sampai saat ini masih nihil, padahal makin hari rumah makin rusak parah,” jelasnya.

Maryani berharap kepada Pemkot Serang, untuk bisa memberikan bantuan kepada warganya yang membutuhkan. “Bentar lagi pergantian kepala daerah, semoga saja melihat di Keluraha Pabuaran masih banyak yang ingin dibantu. Apalagi Kelurahan Pabuaran menyandang status MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah),” tukas dia.(hensa/LLJ).

Copyright @2018 FBn