Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Diskusi Senja #2 ; Pentingkah Hari Bahari dan Hari Tani untuk Mahasiswa Faperta Untirta ?
Diskusi Senja #2 Faperta Untirta .

Diskusi Senja #2 ; Pentingkah Hari Bahari dan Hari Tani untuk Mahasiswa Faperta Untirta ?

Serang,fesbukbantennews.com (15/9/2017) – Dalam rangka menyambut Hari Bahari dan Hari Tani yang jatuh pada tanggal 23 dan 24 September, Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa mengadakan diskusi senja #2 yang bertemakan ,Pentingkah Peringatan Hari Bahari dan Hari Tani untuk Mahasiswa Faperta Untirta ?. Yang bertempat di teater terbuka Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta ) Serang, Banten ,Kamis (14/9/2017) sore.

Diskusi Senja #2 Faperta Untirta .

Diskusi diawali dengan penjelasan mengenai sejarah Hari Bahari oleh pembicara pertama yaitu Decky Hendrianto yang menjabat sebagai Sekjend Saung Tani Institute.

Decky menjelaskan Hari Bahari ditetapkan pada tanggal 23 September yang diperingati sebagai perayaan terhadap kesejahteraan nelayan di Indonesia. Penetapan mengenai Hari Bahari tercantum dalam SK No.249 tahun 1964. SK tersebut dikeluarkan pada saat Musyawarah Nasional mengenai penentuan Hari Maritim Nasional yang pada proses peringatannya diganti menjadi Hari Bahari.

Pembicara kedua yaitu Agung Fajri yang menjabat sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) II Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani) menambahkan perayaan Hari Bahari dimulai dari pesta rakyat pesisir Sukabumi yang dilakukan dalam rangka rasa syukur atas penangkapan ikan yang melimpah.

Selain penjelasan mengenai sejarah Hari Bahari, Decky Hendrianto yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Divisi Advokasi Himpunan Mahasiswa Perikanan (Himapi) Faperta Untirta 2015 dan Kepala Departemen Advokasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Faperta Untirta 2016 ini menjelaskan sejarah peringatan Hari Tani.

Hari Tani jatuh pada tanggal 24 September yang diperingati dari tanggal terbentuknya Undang Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 tahun 1960 dan penentuan Hari Tani ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 169 tahun 1963 oleh Presiden Soekarno.

Hari Tani dipilih pada bulan September karena pada bulan tersebut intensitas curah hujan tinggi dan dipercaya oleh masyarakat sebagai tanda kesuburan dan waktu yang cocok untuk bertanam.

Diskusi Senja #2 yang dihadiri oleh  para pimpinan Organisasi Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Faperta Untirta dan 50 mahasiswa Faperta Untirta ini berlangsung khidmat, peserta diskusi aktif untuk menyampaikan pendapat dan memberikan pertanyaan kepada pembicara Diskusi Senja #2.

Mahasiswa Faperta Untirta penting untuk merayakan Hari Bahari dan Hari Tani, karena jika dilihat dari sejarahnya kita sudah selayaknya merayakan hari-hari tersebut.

Hari Bahari dan Hari Tani bukan hanya sekedar perayaan yang bersifat momentum, karena peran mahasiswa Pertanian selalu dibutuhkan setiap saat.

Pembahasan dalam diskusi ini, mahasiswa Faperta Untirta harus bisa melakukan pendekatan terhadap petani dan nelayan agar peran kita sebagai mahasiswa pertanian dapat dirasakan oleh petani dan nelayan.

Beberapa cara yang dapat kita lakukan yaitu dengan menyesuaikan dengan lingkungan atau budaya setempat karena petani atau nelayan lebih terbuka jika komunikasi yang dibangun bersamaan dengan hal-hal yang mereka biasa lakukan.

Mahasiswa sepatutnya dapat memberikan kontribusi terhadap bangsa ini,  mengingat peran dan fungsi mahasiswa sangat penting. Mahasiswa harus memberikan kontribusi terhadap bangsa ini, karena kita lahir dari tanah air ini, kita besar oleh tanah air ini dan kita mati pun di tanah air ini.

Kita dibesarkan oleh uang-uang negara yang berasal dari pajak-pajak masyarakat yang setiap tahunnya seorang mahasiswa mendapatkan minimal 6 juta rupiah per semester untuk membiayai kuliahya di perguruan tinggi.

Mahasiswa Pertanian pada hakikatnya tidak lagi mendapatkan ilmu akan tetapi mahasiswa harus menemukan ilmu, itulah yang dibutuhkan oleh mahasiswa Fakultas Pertanian Untirta.

Pada perayaan Hari  Bahari dan Hari Tani ini  kita seharusnya mengingat kembali betapa pentingnya peran sektor pertanian dalam berbagai aspek, bukan hanya perayaan moemtum saja ataupun formalitas.

Diskusi Senja #2 ini ditutup pada pukul 18.00 WIB dengan closing statement dan penyampaian agenda selanjutnya oleh Fahmi Auladi selaku Ketua BEM Faperta Untirta 2017 serta pembacaan kesimpunan hasil Diskusi Senja #2 oleh M. Aldis Annaba selaku moderator sekaligus Departemen Advokasi BEM Faperta Untirta 2017.
Faperta… Jaya…!!!

(Mrc/Rdn/LLJ)

Copyright @2016 FBn