Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Calon Tunggal Bukti Gagalnya Kaderisasi Parpol Dan Matinya Sistem Demokrasi*
Febri M.Ramdani (Ketua Himpunan Pemuda Maja "HIPMA")

Calon Tunggal Bukti Gagalnya Kaderisasi Parpol Dan Matinya Sistem Demokrasi*

Lebak,fesbukbantennews.com (13/1/2018) – Jumlah calon tunggal di Pilkada serentak 2018 meningkat jika dibandingkan dua Pilkada sebelumnya. KPU memastikan ada 13 daerah pelaksana Pilkada 2018 yang saat ini masih memiliki satu bakal calon kepala daerah dan provinsi banten yang paling banyak menyumbang calon tunggal tersebut diantaranya, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang. ini merupakan sebuah bukti gagalnya parpol dalam hal kaderisasi untuk mencetak kadernya menjadi pemimpin dan ini juga merupakan sebuah bukti gagalnya sistem demokrasi ditanah banten.

Febri M.Ramdani (Ketua Himpunan Pemuda Maja “HIPMA”)

Munculnya calon tunggal dalam pemilihan kepala daerah serentak 2018 sungguh ironis. Seharusnya partai politik bertanggung jawab melakukan kaderisasi untuk calon kepala daerah.

“Tentu sangat ironis apabila sebuah daerah hanya memiliki calon tunggal dalam pilkada. Defisit kepemimpinan itu menjadi tanggung jawab partai politik sebagai entitas yang berfungsi melakukan regenerasi kepemimpinan.

Secara yuridis ketentuan mengenai penundaan pilkada di daerah yang hanya memiliki calon tunggal dapat dipahami sebagai upaya menguatkan demokrasi di daerah. Bagaimana mungkin sebuah pemilihan dinilai demokratis apabila calonnya tunggal.

Tapi, ketentuan demikian sebenarnya membuka ruang terjadinya degradasi nilai demokrasi yang substantif. Sebab realitas politik dari pengalaman sejumlah pilkada menunjukkan calon yang berpotensi menjadi calon tunggal seringkali sudah ‘mempersiapkan’ calon lain sebagai ‘calon boneka’ yang akan menjadi lawan tandingnya.

Kondisi demikian tentu akan menciptakan kontestasi politik yang artifisial, yang pada akhirnya mendegradasi nilai-nilai demokrasi subtantif.

Masyarakat harus menelan pil pahit demokrasi, mau tidak mau untuk memilih akibat terjadinya calon tunggal pada pelaksanaan Pilkada. Masyarakat hanya dikasih dua pilihan dalam pilkada tersebut yaitu, memilih jika mendukung, dan tidak memilih akibat tidak ada calon lain yang disukai oleh masyarakat.(LLJ).
*kiriman Febri M.Ramdani (Ketua Himpunan Pemuda Maja “HIPMA”).

Copyright @2018 FBn