Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Buruh Tani Pasrah, Harus Keluarkan Uang Rp1,5 Miliar untuk Obati Anaknya

Buruh Tani Pasrah, Harus Keluarkan Uang Rp1,5 Miliar untuk Obati Anaknya

Pandeglang, fesbukbantennews.com (19/11/2015) – Susanto (28) warga Kampung Kalapa Cagak RT01/07 Desa Teluk Lada, Kecamatan Sobang Kabupaten Pandeglang, hanya mampu pasrah dan memandang nanar Adrian (5) anaknya yang menderita penyakit hepatitis B. Lantaran untuk mengobati anaknya tersebut mesti mengeluarkan dana Rp1,5 miliar. Sementara hasil keringat dia sebagai buruh tani hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Adrian, bocah penderita Hepatitis B pasrah. Maau berobat meski keluarkan uang Rp1,5 miliar.

Adrian, bocah penderita Hepatitis B pasrah. Maau berobat meski keluarkan uang Rp1,5 miliar.

Pantauan di kediaman Susanto, seharusnya dimasa kanak-kanak dirinya merasakan kebahagiaan seperti bocah sebayanya, akan tetapi itu semua telah sirna ditelan penyakit yang tak bisa diobati dengan biaya murah. Nampak badan Adrian semakin kurus, mata menguning, perut membesar, tidak bisa berjalan dan hanya bisa berbaring lemas melawan penyakit yang dideritanya selama tiga tahun.

Ayahnya hanya seorang buruh tani yang penghasilanya perhari hanya sebesar Rp30-50 ribu saja, sedangkan biaya untuk sembuh anaknya harus punya uang banyak.

Ibunya, Waskem (28) yang tidak tahan dan ingin anak kesayangannya itu sembuh total dari penyakitnya, akhirnya sang ibu pun meminta izin kepada suaminya untuk pergi menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Negara Taiwan, agar bisa mendapatkan uang untuk biaya berobat. Walaupun sang suami melarang, istrinya tetap nekat dan pada akhirnya suaminya mengijinkan.

Walaupun Waskem istri Susanto, telah pergi mencari uang ke Negara Taiwan. Masih saja belum bisa mengobati anak kesayangannya itu. Dengan uang seadanya Susanto membawa anaknya itu ke Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dan hanya kuat selama tiga hari saja, karena anak itu harus dilakukan oprasi dengan biaya Rp1,5 miliar.

Kini bocah itupun hanya dirawat di rumahnya dengan seadanya karena uang yang di pinta pihak RSCM tidak mungkin bisa dia dapatkan dengan semudah itu. Susanto tidak menyerah begitu saja, dia mencari pertolongan kepada sodara-sodaranya. Akan tetapi semua sodaranya juga sama dari kalangan ekonominya menegah kebawah dan tidak bisa menolongnya.

Karena belum mendapatkan bantuan dari pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, dia juga mencoba menyambangi pihak pemerintah itu. Tapi, dirinya ke bingungan harus menghadap kesiapa. Akhirnya ia di bawa oleh sodaranya untuk menemui anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pandeglang. Hanya saja di gedung dewan yang megah itu, tidak ada anggota dewan satupun karena sedang melakukan kunjungan kerja keluar daerah.

Dengan muka bingung dan harus ke siapa meminta tolong terpancar dari muka Susanto ketika ditemui sedang beristirahat di rereongan Pandeglang. Melihat ada orang yang ke bingungan waratwanpun mencoba mendekatinya dan bertanya kepadanya. Ketika ditanya Susanto mengatakan, bahwa dirinya sedang membutuhkan pertolongan untuk mengobati anaknya yang sedang sakit parah.

“Saya lagi bingung pak, harus meminta tolong kesiapa? Anak saya menderita penyakit Liver atau Hepatitis B sampai sekarang belum bisa di oprasi karena saya harus punya uang Rp1,5 miliar dan di tambah biaya sekening Rp19 juta. Sedangkan saya hanya seorang buruh dan tidak akan mampu mendapatkan uang sebesar itu,” kata Susanto, Rabu (18/11).

Walaupun dirinya sudah dibantu oleh Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) kelas III masih tidak cukup karena hanya mendapatkan bantuan sebesar Rp150 juta saja. Istrinya juga memaksakan pergi ke Negara Taiwan agar bisa mendapatkan uang, hanya saja mampu mengirimi perbulan Rp2 juta saja, katanya.

“Bantuan dari BPJS kelas III yang saya dapatkan masih tidak cukup dan ditambah dari penghasilan istri juga masih tidak cukup. Kini saya hanya bisa pasrah dan entah ke siapa harus meminta tolong,” keluhnya.

Susanto juga mengaku, selama ini dirinya belum pernah dibantu Pemkab, makanya dia mencoba datang dari rumahnya dengan jarak tempuh sekitar 40 Km ke pusat pemerintahan. Al hasil dia tidak bisa bertemu dengan siapapun, dan hanya bisa curhat dengan wartawan.

“Saya belum bisa menemui siapapun pak, maklum saya dari daerah pelosok dan tidak kenal dengan siapapun di pemerintah. Ini juga di anter sodara bisa datang kesini, ya doa dan harapan saya selama ini semoga anak saya bisa sembuh total dan ada dermawan yang membantu,” keluhnya lagi.

Saudara dari Susanto yakni Zaenal Abidin menambahkan, saudaranya benar-benar sedang membutuhkan bantuan untuk biaya oprasi anaknya itu. Dia juga mencoba membawanya ke gedung dewan agar bisa curhat dengan anggota dewan dan menemukan solusi. Ternyata dewannya sedang ada kegiatan di luar kantor, kata Zenal.

“Sodara saya ini dari keluarga kalangan ekonominya lemah ke bawah, ketika mendegar biaya oprasi yang cukup pantastis dia langsung ngedrop, putus asa dan menangis. Saya juga mencoba menenangkanya dengan mengajak berusaha serta tidak malu-malu untuk meminta tolong sama orang lain. Mudah-mudah ini menjadi catatan Pemkab, dan mau membantu sodara saya,” harapnya.(LLJ)

Copyright @2018 FBn