Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » Ayam Yang Mati Di Tengah Tumpukan Padi (oleh : Haitami A*)
Kondisi Jalan di Ujungkulom Pandeglang.

Ayam Yang Mati Di Tengah Tumpukan Padi (oleh : Haitami A*)

Pandeglang, fesbukbantennews.com (26/11/2017) – 143 Tahun Kabupaten Pandeglang berdiri. Tentu usia ini bukanlah yang sedikit apalagi sebentar, juga bukan lagi dikatakan kabupaten yang muda.

Kondisi Jalan di Ujungkulom Pandeglang.

Di usianya yang sudah cukup tua, pandeglang masih menyandang status daerah tertinggal, hal itu dibuktikan belumnya masyarakat merasakan kesejahteraan dari pelayanan pemerintah, salah satuya adalah kepentingan umum seperti jalan.

Persoalan kebutuhan masyarakat terhadap akses jalan kian hari semakin marak disampaikan oleh masyarakat, baik melalui akun media sosial, berita online, tempat-tempat berkumpul bahkan tindakan protes secara langsung.

Di pandeglang, bukan hanya masih banyak jalan-jalan yg belum dibangun atau tidak diperbaiki, terdapat pula satu daerah yang status jalannya tidak diakui oleh pemerintah kabupaten pandeglang yaitu di kecamatan sumur; Sumur – Cikawung, Ujung Kulon.

“Ini sangat mengherankan, jangkan dibangun diakuipun tidak, padahal daerah tersebut masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Pandeglang”.

Meski demikian, pemerintah Kabupaten Pandeglang tetap merasa sudah berbuat maksimal untuk masyarakat Sumur – Cikawung, Ujung Kulon dengan rencana akan dibangunkannya jalan sepanjang 2 km. Kalau kita kaji kembali, jarak dari Sumur – Cikawung, Ujung Kulon masih jauh lebih dari pembangunan jalan yang akan direncanakan. Jadi, mana mungkin 2 km itu bisa mencukupi kebutuhan akses jalan masyarakat yang setiap hari digunakan untuk beraktivitas.

Alasan yang sering dikemukakan oleh pemerintah, selalu saja persoalan anggaran dan itu persoalan yang sangat klasik. Padahal disetaip tahunnya APBD Pandeglang selalu saja menyisakan uang (silpa) yang tidak tergunakan.

Misal, APBD tahun 2016 masih terdapat silpa sebanyak Rp. 282 M. Jumlah silpa tersebut sangatlah fantastis, bukan jumlah yang sedikit. Hal ini juga tentu menjadi pertanyaan besar bagi kita, kenapa masih ada sisa (silpa) yang jumlahnya cukup besar, sedangkan masih banyak masyarakat yg membutuhkan? Bisa kita simpulkan, persoalan itu terjadi bukan karena minimnya anggaran, tapi pengelolaan APBD yg masih belum baik.

Disisi lain, pandeglang sangatlah kaya akan Sumber Daya Alam nya. Tapi ternyata pemerintah belum bisa memaksimalkannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ada banyak juga perusahaan dan pengembang wisata di daerah pandeglang, sekali lagi sangat disayangkan hasilnya tidak kembali dirasakan oleh masyarakat secara merata.

Keuntungan dari Sumber Daya Alam yang ada dibawa entah kemana dan entah dinikmati oleh siapa.
Pada akhirnya, masyarakat setempat hanya bisa mengisap jempol sambil berharap akan kebaikan pemerintah. Dan mereka hanya sebatas memiliki kebanggaan semata karena mereka dikelilingi oleh Sumber Daya Alam yg melimpah dan pemandangan yg bagus, tapi tidak bisa menikmati hasilnya.(LLJ).

*Haetami A (Ketua Presidium Keluarga Mahasiswa Cibaliung Cabang Serang).

Copyright @2016 FBn