Templates by BIGtheme NET
Home » Banten » 10 Tahun TKW Asal Walantaka Kota Serang Hilang di Malaysia

10 Tahun TKW Asal Walantaka Kota Serang Hilang di Malaysia

Serang,fesbukbantennews (2/4/2015) – Seorang TKW bernama Yati Sugiarti (34) diduga hilang di tempat kerjanya Selangor Malaysia. Sudah 10 tahun warga Desa Pipitan,Kecamatan Walantaka, Kota Serang,Banten tersebut tak kunjung pulang.

Foto Yati,TKW yang hilang dipegang ibu dan anaknya.(LLJ)

Foto Yati,TKW yang hilang dipegang ibu dan anaknya.(LLJ)

“Kami sudah berupaya menelusuri jejak Yati, dan menanyakan pada teman-temannya yang sudah pulang lagi ke sini, karena Yati memberitahukan hanya dua tahun saja jadi TKW,” kata Rati, orang tua TKW yang hilang, Rabu (1/4/2015).

Hampir enam bulan pertama saat kerja, komunikasi melalui sambungan telepon internasional selalu terjalin antara Desi, Rati yang dipinjamkan hanpone oleh tetangganya. Dan semenjak 2005, Yati diketahui tak pernah lagi mengontak keluarganya.

“Namun sejak 2005, tidak ada kabar apapun. Terakhir berkomunikasi, katanya Yati mau pulang, karna hanya dua tahun saja kerjanya. Tapi sudah hampir sepuluh tahun Yati enggak pulang-pulang,” kata Rati.

Ia mengatakan, keluarganya masih berharap Yati bisa kembali lagi ke Indonesia. Bahkan, saat ini keluarganya sudah pasrah jika harus kehilangan. Pihak keluarga masih terus berupaya mencari keberadaan Yati.

“Yang saya khawatirkan, Yati bekerja di majikannya tetapi tidak digaji, atau bisa saja menikah dengan majikannya, dan jika meninggal saya ingin jasad anak saya dikembalikan ke sini,” kata Rati.

Tak henti-henti menatap sebuah foto seorang perempuan. Raut wajah Desi Astuti (14) anak TKW tersebut seakan menahan tangis. Perempuan dalam foto itu tak lain adalahnya ibunda tercintanya,
“Sudah sepuluh tahun saya ditinggal oleh mamah, saat saya masih berusia 4 tahun, dan ayah saya sudah nikah lagi semenjak mamah saya pergi ke Malaysia, jadi saya sangat sedih,” kata Desi yang masih mengecam pendidikan disalah satu MTS di Desanya.

Desi anak TKW yang sekarang sudah duduk di bangku MTs berulang kali menghubungi nomor telepon yang biasa digunakan ibunya berkomunikasi. Selama itu pula nomor telepon yang dituju tak pernah aktif lagi.

“Kalau teman mamah yang lain sudah pada kembali lagi, tapi mamah belum kunjung pulang. Kami cemas karena tidak mengetahui kondisi dan keberadaannya di mana,” ucap Desi.

Selain terus menghubungi nomor telepon yang biasa digunakan ibunya, Desi juga berupaya mencari tahu melalui pihak yang memberangkatkan mamahnya, yaitu Ibu Sri yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, namun upanyanya selalu gagal, karna Ibu Sri tidak pernah ada di rumahnya.

“Saya mau menanyakan pada Ibu Sri yang mengajak mamah berangkat kesana, namun Ibu Sri tidak pernah ada di rumah,” katanya sambul menatap foto mamahnya.

Selama bekerja di Malaysia, Desi belum pernah mendengar suara ibunya, apalagi menatap langsung wajahnya.
“Saya kangen mamah, saya ingin mamah pulang, tolong dibantu, saya kangen mamah,” kata Desi sambil menangis.

Perlu diketahui, Desi diurus oleh neneknya Rati semenjak berumur 4 tahun, dan mereka menempati rumah oraang yang merasa kasihan dikarnakan rumah Yati dan Suaminya sudah dijual oleh orang lain. Dan mereka merasa sangat sedih, dikarnakan untuk kebutuhan sehari – hari Rati hanya menunggu belas kasihan tetangganya. (man/LLJ).

Copyright @2016 FBn